3 Alasan Wisata Jepang Sepi, Jumlah Pelancong Menyusut 95 Persen

Jakarta, c4d-forum.de

Jepang mengalami paceklik turis dengan angka kedatangan wisatawan yang turun drastis. Keputusan membuka perbatasan untuk kunjungan wisatawan sejak 10 Juni 2022 hingga kini belum mendatangkan hasil yang signifikan.

Dilansir dari CNN Travel, berdasarkan data dari Badan Layanan Imigrasi Jepang, antara 10 Juni dan 10 Juli 2022, Jepang hanya menyambut sekitar 1.500 turis.

Data menyatakan bahwa angka tersebut turun 95 persen dari periode yang sama pada 2019, yakni sebelum pandemi Covid-19 melanda. Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan, karena negara yang seharusnya paling ditunggu ketika kembali dibuka justru mengalami penurunan jumlah turis.

Di sisi lain, Negeri Matahari Terbit itu merupakan salah satu destinasi liburan favorit bagi turis dari berbagai belahan dunia. Wisata Jepang dikenal begitu luar biasa karena menawarkan ragam jenis destinasi yang menarik untuk dikunjungi.

Sejumlah faktor diketahui turut memengaruhi jumlah kedatangan turis ke Jepang yang masih minim. Berikut beberapa di antaranya.

1. Turis wajib datang berkelompok atau ikut tur

Aturan berlibur di Jepang setelah pandemi mengalami sejumlah perubahan. Salah satunya Jepang saat ini hanya mengizinkan wisatawan liburan dengan datang secara berkelompok dan teratur.

Kebijakan ini tentu menjadi hambatan bagi wisatawan Barat yang dikenal menyukai spontanitas dan cenderung enggan mengikuti rencana perjalanan yang teratur serta sistematis.

Seorang pelancong asal New York yang kerap bepergian ke Jepang mengungkapkan kekesalan dan rasa frustrasi atas adanya peraturan baru ini. Banyak juga turis yang kini memilih berputar haluan ke Seoul, Korea Selatan, karena tak lagi bisa liburan sendiri atau hanya beberapa orang di Jepang.

Baca Juga :  Bacaan Niat Salat Idulfitri untuk Imam dan Makmum

2. Tidak sepenuhnya dibuka




Ilustrasi. Jepang mengalami paceklik turis, jumlah pelancong menyusut hingga 95 persen. (AP/Koji Sasahara)

Kebijakan pelonggaran usai pandemi Covid-19 yang diterapkan Jepang nyatanya tidak sepenuhnya terbuka. Negara ini masih memiliki aturan masker di banyak daerah, harga tur kelompok yang mahal, hingga kewajiban karantina saat kedatangan.

Menurut Badan Layanan Imigrasi, dua pengunjung terbesar pariwisata Jepang saat ini adalah Thailand dan Korea Selatan. Sekitar 400 orang dari kedua negara tersebut telah mengunjungi Jepang sejak Juni 2022, sementara turis Amerika Serikat hanya sejumlah 150 orang.

3. Nihil wisatawan China

Pada 2019, China menjadi pasar pariwisata tunggal terbesar Jepang dengan 9,25 juta kunjungan warga China. Namun, akses terbatas karena pembatasan dan protokol karantina yang ketat di China membuat aktivitas wisatawan dari negara tersebut terhenti.

Dampak tersebut tidak hanya dirasakan Jepang, tetapi juga sejumlah negara destinasi wisata populer bagi turis China lainnya. Australia, Thailand, Singapura, hingga Korea Selatan melaporkan penurunan pendapatan karena nihilnya wisatawan China.

Meski demikian, Jepang masih memiliki potensi lonjakan turis mancanegara jika pemerintah negara tersebut memberi kelonggaran penuh bagi turis. ‘Liburan balas dendam’ mungkin bakal menjadi tren, danĀ Jepang bisa jadi negara yang mendapat keuntungan dari fenomena tersebut.

(del/asr)

[Gambas:Video CNN]