5 Protokol Kerajaan Inggris yang Pernah Dilanggar Putri Diana

Jakarta, c4d-forum.de

Mendiang Putri Diana dikenal sebagai tokoh nyentrik dan pemberani. Dalam keluarga Kerajaan Inggris, ia juga dikenal sebagai sosok yang inspiratif.

Mantan istri Raja Charles III tersebut tetap dicintai oleh masyarakat Inggris, bahkan dunia, sebagai sosok yang menginspirasi mereka.

Kerajaan Inggris memang dikenal memiliki sederet protokol ketat, yang sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun. Aturan protokol ini harus dipatuhi oleh para anggota keluarga kerajaan, tak terkecuali Putri Diana, yang saat itu adalah istri dari Pangeran (kini Raja) Charles.

Putri Inggris yang dijuluki ‘Queen of People’s Hearts’ itu meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis di Paris pada tahun 1997. Selama hidup, sosoknya yang berani pernah melanggar beberapa peraturan kerajaan.

Namun, alih-alih dibenci, justru keberaniannya untuk melanggar protokol kerajaan itulah yang membuatnya dipuja banyak orang hingga sekarang.

Seperti dikutip dari CNN, berikut lima protokol kerajaan yang dilanggar Putri Diana.

1. Menghilangkan kata ‘patuh’ dari sumpah pernikahannya

Sudah menjadi tradisi lama bagi pengantin Kerajaan Inggris untuk mengatakan bahwa mereka akan mematuhi suami mereka saat mengucapkan sumpah pernikahan mereka.

Namun, saat Diana menikah dengan Pangeran Charles pada 1981, kata ‘patuh’ tidak diucapkannya. Diana menghapus kata ‘patuh’ dan lebih memilih untuk berjanji akan mencintai, menghibur, menghormati, dan menjaganya di kala sakit serta sehat.

Hal yang dilakukan Diana tersebut diketahui telah mendobrak dan melanggar tradisi kerajaan. Meski begitu, para istri dari anak-anaknya, Kate Middleton dan Meghan Markle, mengikuti jejaknya dengan tidak menggunakan kata ‘patuh’ saat mengucapkan sumpah pernikahannya di pernikahan mereka masing-masing.

2. Menyekolahkan putra-putranya di luar istana




Putri Diana menyekolahkan kedua putranya di sekolah publik. (AFP PHOTO/JOHNNY EGGITT)

Diana kembali mendobrak tradisi dan membuat sejarah ketika memutuskan untuk mengirim putra sulungnya, Pangeran William, ke prasekolah di luar Istana Buckingham. Dulunya, para calon pewaris takhta belajar dengan menetap di rumah dengan pengasuh.

Putri Diana, yang pernah bekerja sebagai asisten guru, memilih sekolah kecil karena dia ingin Pangeran William memiliki pendidikan yang normal seperti anak-anak Inggris lainnya. Hal ini pun dilakukan juga kepada anak keduanya, Pangeran Harry, dengan mengirimnya ke sekolah yang sama.

Pilihan Diana untuk mengirim kedua putranya ke sekolah publik tidak hanya menunjukkan keberaniannya melanggar protokol kerajaan, tetapi juga untuk mengekspos mereka ke kehidupan normal.

3. Menampik stigma negatif penderita AIDS/HIV

Pelanggaran protokol lain yang dilakukan Putri Diana adalah ketika dirinya mengunjungi para penderita AIDS di London’s Middlesex Hospital pada tahun 1987. Hal ini membuat nama Diana menjadi semakin ikonik.

Pada saat itu, virus tersebut menjadi krisis kesehatan global dan sering dikaitkan dengan informasi dan stigma yang salah. Saat itulah Diana menjabat tangan seorang pasien AIDS tanpa sarung tangan dengan tujuan ingin menggeser stigma negatif tentang para penderitanya.

Hal ini menyampaikan pesan yang jelas bahwa seorang anggota keluarga kerajaan tidak takut menyentuh pasien AIDS yang saat itu dipercaya dapat ditularkan melalui sentuhan.

4. Memilih fesyen modern

Putri Diana tak hanya sesekali melanggar protokol kerajaan dalam pilihan busananya lantaran sering memilih pakaian yang lebih modern dan kasual.

Diana pernah menghadiri sebuah pesta di Royal Opera House, London, dengan gaun hitam yang sangat sensasional. Pihak Istana dikabarkan tidak tahu mengenai gaun yang akan ia pakai.

Bagi keluarga kerajaan, menggunakan pakaian hitam adalah hal yang tidak boleh dilakukan kecuali ketika sedang ada dalam masa berkabung. Ratu Elizabeth II dan anggota keluarga kerajaan lain lebih memilih menggunakan pakaian dengan warna terang agar mudah dikenali.

5. Bertelanjang kaki di depan umum




Diana, Princess of Wales, right, and her companion Dodi Fayed, walk on a pontoon in the French Riviera resort of St. Tropez, Aug. 22, 1997. The story of Princess Diana's death at age 36 in that catastrophic crash in a Paris traffic tunnel continues to shock, even a quarter-century later. (Patrick Bar/Nice Matin via AP)Semasa hidupnya sebagai anggota kerajaan, Putri Diana pernah beberapa kali melanggar protokol. (AP/Patrick Bar)

Pada tahun 1991, Diana berpartisipasi dalam lomba lari dengan orang tua lain untuk perayaan Hari Olahraga di Wetherby School. Dia berlari tanpa alas kaki dan kalah dalam perlombaan.

Anggota keluarga kerajaan biasanya diharapkan untuk tetap memakai sepatu mereka saat di depan umum.

Sebagian besar aturan kerajaan ini hanya cukup dipelajari dan tidak perlu diucapkan. Salah satunya juga termasuk memiliki sepatu yang bersih dan rapi. Namun, Diana tidak membiarkan aturan-aturan ini mengganggu kesenangannya.

(del/asr)

[Gambas:Video CNN]


Baca Juga :  36 Arti Bahasa Gaul 2022 Viral di Media Sosial: YGY, SCBD, MLYT