Apa Betul Harus Selalu Ada Darah di Malam Pertama?

Jakarta, c4d-forum.de

Pendarahan dan hubungan intim pertama kali alias malam pertama seolah tidak boleh dipisahkan. Apa benar jika malam pertama harus ada darah?

Boy Abidin, dokter spesialis kebidanan-konsultan fertilitas, mengatakan bahwa sebenarnya risiko pendarahan bisa terjadi pada semua momen hubungan intim, termasuk malam pertama. Khusus pendarahan pada malam pertama dikaitkan dengan hymen atau selaput dara.

Namun, menurut Boy, malam pertama tak selalu harus ada pendarahan. Pasalnya, kondisi selaput dara pada setiap wanita saling berbeda satu sama lain. Artinya, tak berarti juga seorang perempuan tak lagi perawan jika tak mengalami pendarahan saat malam pertama.

“Karena selaput dara itu sangat elastis, ada perempuan yang tidak berdarah, ada yang berdarah,” kata Boy pada CNNIndonesia.com saat dihubungi pada Selasa (20/9).

Akan tetapi, yang perlu jadi catatan, pendarahan akibat robekan selaput dara tidak akan parah. Pendarahan yang normal tak akan separah sebagaimana yang terjadi pada kasus viral wanita yang harus menjalani transfusi darah usai malam pertama.

Selaput dara, kata dia, berupa selaput tipis dengan pembuluh darah perifer yang berukuran kecil. Pendarahan bisa terjadi, tetapi tidak ekstrem.

Mengapa Bisa Pendarahan Hebat?

Boy pun mengatakan, risiko pendarahan hebat saat hubungan intim bisa terjadi karena beberapa faktor sebagai berikut.

1. Vagina kurang rileks




Ilustrasi. Vagina yang kurang rileks bisa memicu pendarahan hebat usai berhubungan seks. (Istockphoto/dima_sidelnikov)

Para ahli menekankan pentingnya foreplay sebelum penetrasi. Saran ini bukan tanpa alasan, sebab foreplay menyiapkan psikis dan fisik wanita.

Dengan foreplay, vagina jadi lebih rileks dan siap melakukan penetrasi. Vagina yang kurang rileks bisa memicu gesekan dengan dinding vagina yang kaku sehingga timbul pendarahan.

2. Penetrasi terlalu ‘kasar’

Penetrasi yang terlalu ‘kasar’ bisa menimbulkan perdarahan. Boy memberikan contoh pasiennya yang mengalami pendarahan hebat akibat robekan pada forniks. Di area ini terdapat pembuluh darah yang sangat besar.

“Saat terjadi kerusakan, robekan, luka, perdarahannya bisa sangat aktif,” jelasnya.

3. Penggunaan alat bantu seksual yang tidak tepat

Alat bantu seksual dengan tekstur dan ukuran kurang tepat bisa memicu pendarahan.

Alat bantu seksual mungkin terlalu tajam atau panjang. Atau, bisa jadi juga alat bantu seksual sudah sesuai, tetapi kurang menggunakan pelumas sehingga gesekan dengan dinding vagina menimbulkan pendarahan.

4. Penetrasi anal

Penetrasi pada anal atau anus mengandung aneka risiko, termasuk pendarahan. Saat penetrasi dipaksakan, timbul robekan di dinding anus. Selain itu, penetrasi anal berisiko menyebarkan kuman dari anus ke area vagina.

(els/asr)

[Gambas:Video CNN]


Baca Juga :  Pada Terang yang Tak Berkesudahan