Bagaimana Islam Memandang Non-biner?

Jakarta, c4d-forum.de

Istilah non-biner sedang jadi perbincangan publik. Gara-garanya, seorang mahasiswa baru di Universitas Hasanuddin yang mengaku sebagai seroang non-biner.

Non-biner menjadi istilah umum yang digunakan oleh mereka yang tak ingin tergabung dalam definisi gender tertentu, baik pria maupun wanita. Bagaimana non-biner dalam Islam?

Kyai dari PBNU, Fahrur Rozi atau yang biasa disapa Gus Fahrur mengatakan bahwa dalam Islam, non-biner adalah sesuatu yang melawan kodrat.

Islam mengenal pria dan wanita sebagai khilafah di Bumi. Nabi Adam dan Siti Hawa adalah dua manusia pertama dengan jenis kelamin yang berbeda. Adam sebagai pria, dan Siti Hawa sebagai wanita.

“Ya, itu [non-biner] melawan kodrat manusia,” kata Gus Fahrur saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (22/8).

Islam, kata dia, tidak mengenal istilah non-biner. Tuhan hanya menciptakan pria dan wanita yang dipasangkan di Bumi.

“Tuhan menciptakan manusia berpasangan, lelaki dan perempuan untuk mendapatkan keturunan dan menjaga kelestarian kehidupan,” kata dia.

Bagi Islam sendiri, seorang wanita yang berperilaku seperti pria akan tetap dianggap sebagai wanita. Begitu juga dengan pria yang berperilaku seperti wanita.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَعَنَ الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاتِ مِنَ النِّسَاءِ

Artinya:
Sesungguhnya baginda Nabi SAW melaknat para lelaki yang mukhannats (berperilaku seperti wanita) dan para perempuan yang mutarajjilat (berperilaku seperti lelaki),” (HR Al-Bukhari dan Abu Dawud).

Di antara alasan dan hikmah larangan atas perbuatan seperti ini adalah menyalahi kodrat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Al-Munawi berkata di dalam karyanya, Faidhul Qadir:

وحكمة لعن من تشبه إخراجه الشئ عن صفته التي وضعها عليه أحكم الحكماء

Baca Juga :  5 Saran IDAI Persiapkan Anak PTM di Tengah Ramai Hepatitis Akut

Artinya:
Hikmah dari laknat terhadap orang yang berusaha menyerupai lawan jenis adalah mengeluarkan sesuatu dari sifat yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Bijaksana (Allah SWT). (Lihat Zaid Al-Munawi, Faidhul al-Qadir, Beirut, Darul Fikr Al-Ilmiyah, cetakan kedua, 2003 M, jilid V, halaman 271).

(tst/asr)

[Gambas:Video CNN]