Boleh Bercanda di Tempat Kerja, Asal Kenali Batas-batasnya

Jakarta, c4d-forum.de

Candaan serta humor di tempat kerja adalah sesuatu yang diperlukan. Tapi tentu saja, tak semua hal bisa jadi bahan candaan.

Batasan harus tetap diterapkan setiap kali Anda mencoba bercanda, khususnya di tempat kerja.

Tanpa candaan dan humor, tempat kerja akan terasa suram. Bayangkan, Anda berada di ruang kerja selama kurang lebih sembilan jam hampir setiap hari tanpa senda gurau. Isinya hanya orang-orang serius yang menatap layar. Betapa kelamnya dunia terasa.

“Ibarat kata, pahit-pahitnya perusahaan, tapi orangnya tetap harus bahagia. Itu, kan, tidak ternilai. Katanya uang, kan, enggak bisa beli segalanya, tapi humor yang pasti membahagiakan,” kata Seno Gumira Ajidarma, penulis buku yang juga tergabung dalam Institute Humor Indonesia Kini (IHIK) saat menjadi salah satu pembicara dalam launching buku Humor at Work by IHIK, beberapa waktu lalu.

Batasan Canda di Tempat Kerja

Humor memang diperlukan untuk menetralkan suasana kerja yang tegang dan kaku.

Tapi tetap saja, menurut Seno, humor di tempat kerja, candaan-candaan yang dilontarkan sesama pekerja harus memiliki batasan. Jangan sampai candaan malah jadi bencana. Terutama, sampai membuat orang lain tersinggung atau merasa direndahkan.

Berikut ini batasan-batasan yang harus diterapkan setiap kali menyampaikan guyonan di tempat kerja.

1. Humor harus adil dan beradab

Humor sering kali disebut tidak netral. Humor juga kerap membawa gender atau status kekayaan hingga pendidikan seseorang. Padahal, humor harus beradab.
Hal-hal seperti gender, seksualitas, hingga status sosial dan ekonomi seseorang bukan hal yang layak menjadi bahan candaan.

“Humor itu harus adil dan beradab. Humor bukan yang menindas dan kita ikut tertawa,” kata Seno.

Baca Juga :  5 Tips Hilangkan Budaya Hustle Culture, Penyakit Hati Kaum Pekerja

2. Stupid humor dari atasan ke bawahan




Ilustrasi. Harus ada batas yang ditetapkan saat melontarkan humor di tempat kerja. (iStock/Vasyl Dolmatov)

Stupid humor atau humor yang merendahkan orang lain sebenarnya bukan candaan. Ini sama dengan hinaan, apalagi jika lawan main Anda tidak setuju dengan olok-olok yang dilontarkan.

“Merendahkan orang lain, ironis ini karena bisa jadi humor yang disalah artikan. Semua orang tertawa, bahkan yang diolok-olok pun terpaksa ikut tertawa, padahal dia tidak mau tertawa sama sekali,” kata dia.

3. Kesadaran kolektif saat ber-humor

Candaan harus disepakati bersama, jika memang menyangkut identitas etnik atau agama.

Jika memang tidak setuju, ungkapkan. Jangan hanya diam agar hal serupa tidak berlanjut menjadi duri dalam daging.

4. Humor tak kenal relasi kuasa

Humor adalah satu hal yang dinikmati oleh kedua belah pihak. Humor harus disetujui dan dilakukan bersama-sama oleh dua pihak atau lebih. Jangan sampai muncul relasi kuasa dalam humor.

Misalnya, satu pihak jadi bahan candaan tanpa bisa membalas kembali candaan yang sama, misalnya karena takut. Dia tidak bisa melawan karena merasa tidak nyaman.

“Ini bisa berubah jadi bully. Ini konteksnya bukan lagi candaan, tapi bully-an,” katanya.

(tst/asr)

[Gambas:Video CNN]