Cacar Monyet Semakin Dekat dengan Indonesia, Waspadai Gejalanya

Jakarta, c4d-forum.de

Wabah cacar monyet semakin dekat dengan Indonesia. Setelah berbulan-bulan mewabah di sejumlah negara, kini cacar monyet dilaporkan telah masuk ke Singapura.

Singapura melaporkan kasus cacar monyet pertama yang dikonfirmasi di Asia Tenggara (Asean) selama wabah berlangsung tahun ini.

Cacar monyet terjadi pada seorang pria Inggris yang berada di Singapura antara 15-17 Juni. Dia dinyatakan positif cacar monyet pada Senin (20/6) lalu, setelah sebelumnnya mengalami ruam, sakit kepala, dan demam.

“Selama periode itu, dia [pasien] sebagian besar tinggal di kamar hotelnya, kecuali untuk mengunjungi tempat pijat dan makan di tiga restoran pada 16 Juni,” ujar Kementerian Kesehatan Singapuran, Selasa (21/6), mengutip CNN.

Dilaporkan, pasien setidaknya melakukan kontak dekat dengan 13 orang, yang hingga saat ini masih dalam pelacakan. Saat ini, pasien tengah menjalani perawatan di Pusat Nasional untuk Penyakit Menular.

Sebelumnya, cacar monyet juga dilaporkan telah masuk ke Korea Selatan. Seorang warga negara Korea Selatan yang baru saja tiba dari Jerman pada Selasa (21/6) sore dinyatakan positif cacar monyet.

Dua kasus ini setidaknya membuat Indonesia perlu lebih waspada. Sebagaimana diketahui, Singapura merupakan negara yang lokasinya sangat berdekatan dengan Indonesia.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI sendiri telah melakukan persiapan untuk menghadapi cacar monyet. Pada Mei lalu, Kemenkes telah mengeluarkan surat edaran tentang kewaspadaan terhadap cacar monyet di negara non-endemis.

Dalam surat edaran itu, Kemenkes mengimbau sejumlah hal yang harus dilakukan untuk mencegah penularan penyakit tersebut.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu mengatakan bahwa cacar monyet bisa bersifat ringan hingga berat dan berujung kematian.

Baca Juga :  INFOGRAFIS: Flu Singapura, Si Penyakit Peralihan Musim




Ilustrasi. Demam jadi salah satu gejala cacar monyet yang perlu diwaspadai. (Istockphoto/ Thomas_EyeDesign)

“Bisa berkembang menjadi berat dan bahkan kematian. Tingkat kematian 3-6 persen. Penularan kepada manusia terjadi melalui kontak langsung dengan orang ataupun hewan yang terinfeksi, atau melalui benda yang terkontaminasi oleh virus tersebut,” kata Maxi.

Cacar monyet sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan infeksi virus Monkeypox yang langka.

Cacar monyet ditemukan pertama kali pada 1970 silam di Republik Demokratik Kongo. Setelah bertahun-tahun meredam, cacar monyet kembali dilaporkan pada medio Mei lalu di Inggris.

Sejak saat itu, sejumlah negara non-endemis melaporkan kasus cacar monyet. Hingga saat ini, sebanyak 2.500 kasus cacar monyet telah dilaporkan di sejumlah negara.

Mengingat kini cacar monyet kini telah semakin dekat, masyarakat Indonesia perlu mewaspadai sejumlah gejala. Mengutip laman Sehat Negeriku Kemenkes, masa inkubasi virus Monkeypox biasanya berlangsung selama 6-21 hari.

Pada fase awal, seseorang yang terinfeksi Monkeypox akan mengalami demam, sakit kepala, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri otot, dan lemas.

Selang beberapa hari atau pada fase paling infeksius, gejala berkembang menjadi ruam atau lesi pada kulit. Biasanya ruam akan dimulai dari wajah hingga menyebar ke bagian tubuh lainnya.

(asr/asr)

[Gambas:Video CNN]