Gejala Cacar Monyet Mirip Sifilis, Apa Bedanya?

Jakarta, c4d-forum.de

Ruam bernanah jadi salah satu gejala cacar monyet yang paling umum. Ruam ini bisa muncul di berbagai area, termasuk sekitar genitalia.

Namun, gejala ruam pada cacar monyet ini disebut-sebut mirip dengan sifilis. Penyakit menular seksual satu ini juga menimbulkan gejala ruam bernanah.

Pada pasien cacar monyet pertama di Indonesia sendiri tak diketahui pasti apakah gejala tersebut muncul atau tidak.

Meski begitu, Ketua Satgas Monkeypox PB IDI, Hanny Nilarasi menyebutkan adanya kemungkinan suspek cacar monyet untuk diminta melakukan tes sifilis.

“Apabila pada saat melakukan wawancara mendalam [dengan pasien] kemudian ada kecurigaan ke arah sifilis, tentunya kita akan lakukan pemeriksaan laboratorium, karena sifilis sangat sulit untuk hanya didiagnosis secara klinis,” kata Hanny.

Beda Sifilis dan Cacar Monyet

Mengutip laman National Health Security (NHS), sifilis adalah penyakit penular seksual (PMS) yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Jika tak diobati, sifilis dapat menyebabkan masalah serius dan berpotensi mengancam jiwa.

Gejala sifilis sering kali ringan dan sulit diperhatikan. Berikut beberapa gejala yang bisa muncul saat seseorang mengalami sifilis:

– luka kecil pada penis, vagina, atau di sekitar anus;
– luka tidak terasa sakit;
– luka di area lain, termasuk di mulut atau di bibir, tangan, atau pantat;
– muncul kutil putih atau abu-abu, paling sering pada penis, vagina atau di sekitar anus;
– ruam di telapak tangan dan telapak kaki yang terkadang menyebar ke seluruh tubuh, biasanya tidak gatal;
– bercak putih di mulut;
– gejala umum seperti flu, sakit kepala, dan kelelahan;
– rambut rontok merata di kepala, janggut dan alis.

Baca Juga :  4 Mitos Seputar Kolesterol yang Jangan Dipercaya




Ilustrasi. Gejala ruam pada cacar monyet disebut mirip dengan sifilis. (Via REUTERS/UK HEALTH SECURITY AGENCY)

Sementara gejala ruam pada pasien cacar monyet adalah sebagai berikut:

– ruam bisa muncul di wajah, tangan, kaki, dan alat kelamin;
– jumlah ruam tidak terlalu banyak;
– bergerombol;
– tidak gatal dan perih;
– bisa sembuh sendiri dalam waktu kurang lebih 3 pekan.

(tst/asr)

[Gambas:Video CNN]