Jalan Panjang Kebaya di Nusantara, Dulu dan Kini

Jakarta, c4d-forum.de

Di Indonesia, kebaya seolah ‘eksis’ pada momen-momen tertentu. Sebagai salah satu produk budaya Nusantara, kebaya seolah jarang diingat.

Namun belakangan, sekelompok masyarakat tiba-tiba ramai mengajak banyak wanita Indonesia untuk mengenakan kebaya. Gaungnya dinamakan ‘Kebaya Goes to UNESCO’.

Bukan untuk tujuan eksistensi belaka, upaya itu dilakukan dalam merespons adanya seruan untuk mengajukan kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.

“[Pengajuan ini] kita melihat sejarah kebaya. Sejarahnya ada di sini. Makanya waktu itu, pertama kali menyampaikan [usulan] Hari Berkebaya Nasional [juga] mendaftar ke UNESCO di 2017,” kata Ketua Umum Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Rahmi Hidayati, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Selasa (23/8).

Usulan Hari Berkebaya Nasional dan pendaftaran kebaya ke UNESCO pun kembali digaungkan di gelaran Kongres Berkebaya Nasional pada April 2021.Usulan ini didukung Kemenko PMK, Kemendikbud, Kemenparekraf, dan Kemenkop.

Belum sempat kebaya Indonesia bertandang ke UNESCO, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam terlebih dahulu bergerak dan mengajak Indonesia mendaftarkan kebaya bersama-sama. Dengan kata lain, kebaya didaftarkan oleh beberapa negara atau multi nation.

Wacana pengajuan kebaya secara multi nation pun mengundang respons banyak masyarakat. Rahmi bersama beberapa orang lainnya menolak rencana pengajuan kebaya ke UNESCO secara multi nation. Mereka percaya bahwa Indonesia memiliki akar sejarah yang kuat perihal kebaya.

Yang jadi masalah, menurut Rahmi, bukan sejarah yang jadi pertimbangan UNESCO, melainkan pelestarian sebuah produk budaya. Selama berhasil menunjukkan pelestarian produk budaya–dalam hal ini kebaya–selama 25 tahun, maka negara tersebut berhak mengajukannya ke UNESCO sebagai warisan budaya.

“Sedangkan [kebaya] kita [di Indonesia], sudah ratusan tahun [ada dan lestari],” ujar Rahmi.

Baca Juga :  Cemas dan Depresi Picu Risiko Terkena Penyakit Kronis




Ilustrasi. Kebaya punya akar sejarah yang kuat di Nusantara. (c4d-forum.de/Andry Novelino)

Hingga saat ini, pemerintah sendiri belum memutuskan apakah kebaya akan diajukan sebagai single nation atau multi nation.

Dosen Program Studi Pendidikan Tata Busana Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia (IPI) Suciati mengatakan sebenarnya sah-sah saja jika kebaya diajukan oleh satu atau beberapa negara.

Menurutnya, busana yang memiliki kesamaan dengan kebaya ditemukan di sejumlah negara lainnya, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Namun, tentu dengan nama yang berbeda.

Jika kebaya diajukan oleh satu negara–dalam hal ini Indonesia–juga tak masalah. Pasalnya, kebaya Nusantara memiliki bentuk sendiri, ada asal muasal, dan hadir tanpa proses meniru.

“Pada waktu yang sama diajak barengan bersama negara-negara Asia ke UNESCO, monggo. [Namun] kita punya perjalanan, ciri khas, makna visual berbeda, sebagai jati diri bangsa Indonesia,” kata Suciati pada CNNIndonesia.com lewat telepon pada Rabu (24/8).

Berawal dari selendang yang disampirkan

Jauh sebelum ada kebaya, perempuan Nusantara mengenakan lilitan kain. Kain itu dililitkan mulai dari bawah ketiak (kemben) atau dililitkan mulai dari pinggang. Strata sosial menentukan cara orang berbusana.

Mereka yang berasal dari strata sosial tinggi akan mengenakan busana berlapis, panjang, material tertentu, lengkap dengan aksesori seperti mahkota. Semakin rendah strata sosial, semakin sedikit dan pendek lapisan busana yang dipakai.

Sekitar abad ke-11, ajaran Islam masuk ke Jawa. Di Jawa, salah satu kerajaan yang berkuasa saat itu adalah Kerajaan Majapahit. Di sinilah awal mula lahirnya Kebaya.

“Saat itu muncul pemikiran, Islam masuk [berarti busana] harus tertutup,” ujar Suciati.

Dari sana, kemben yang tadinya memperlihatkan sebagian dada dan pundak ditutup oleh selendang yang disampirkan. Tujuannya, jelas untuk membuat pakaian jadi lebih tertutup.




Sejumlah model berbusana kebaya berjalan saat sesi peragaan busana dalam acara #INDONESIABERKEBAYA di Museum Nasional, Jakarta, Selasa, 16 Juli 2019.. Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia mengadakan acara tersebut sebagai bentuk upaya melestarikan kebaya bagi masyarakat Indonesia.Ilustrasi. Kebaya di Nusantara berasal dari kembang yang ditutup oleh kain yang disampirkan. (c4d-forum.de/Adhi Wicaksono)

Seiring berjalan waktu dan masuknya pengaruh bangsa-bangsa lain seperti China dan Portugis, kain yang hanya disampirkan kemudian diselubungkan ke tubuh dan dijahit. Bentuknya pun menyerupai jubah China yang panjang, longgar dan belahan di bagian depan.

Barulah pada abad ke-12 hingga ke-14, kain selubung diperkenalkan sebagai penutup aurat dan disebut kebaya. Nama kebaya sendiri berasal dari bahasa Arab ‘habaya’ atau ‘kaba’ yang berarti pakaian.

“Kebaya berasal dari lingkungan priyayi [bangsawan] kerajaan, wanita terhormat, dia lahir dari lingkungan adiluhung dan dari budaya pemikiran Islam yang tertutup bajunya,” jelas Suciati.

Sejak itu, kebaya terus bermunculan di seluruh Nusantara. Menjadi salah satu produk budaya kebanggaan perempuan.

Simak penjelasan mengenai kebaya lainnya di halaman berikutnya..


Kesamaan Budaya, ‘Kebaya’ Tak Cuma di Indonesia

BACA HALAMAN BERIKUTNYA