Kelahiran Pancasila di Kota Ende dan Kisah Desa Berusia 800 Tahun

Jakarta, c4d-forum.de

Apabila berbicara tentang Pancasila, tidak lengkap apabila kita juga tidak mengaitkannya dengan Kota Ende di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bukan rahasia lagi bahwa Kota Ende menjadi tempat dirumuskannya Pancasila oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno. Kala itu, tepatnya pada 14 Januari 1934, Belanda mengasingkan Soekarno ke Kota Ende bersama istri dan dua anak angkatnya, serta ibu mertua.

Di rumah pengasingan itu, Bung Karno justru mampu berpikir lebih jernih mengenai masa depan bangsa Indonesia. Bung Karno dikisahkan kerap duduk di bawah pohon sukun yang rindang di sebuah taman di Kota Ende, untuk merenung selama berjam-jam.

Dari renungan itu, Bung Karno melahirkan nilai-nilai kehidupan dalam Pancasila, yang kemudian menjadi dasar negara Republik Indonesia. Untuk alasan itu pula Kota Ende tak jarang disebut sebagai Kota Pancasila.

Kini, rumah pengasingan dan Taman Renungan Pancasila itu menjadi destinasi wisata sejarah di Kota Ende. Selain itu, dibangun pula patung Bung Karno tengah duduk merenung di bawah pohon sukun sambil memandang ke arah laut.

Namun, Kota Ende bukan hanya memiliki destinasi wisata sejarah. Tak banyak diketahui bahwa tidak jauh dari Kota Ende, terdapat Desa Wologai, yakni desa adat yang konon telah berusia 800 tahun.

Desa Wologai, Kecamatan Detusoko, terletak 37 kilometer dari Kota Ende. Untuk menuju ke sana bisa ditempuh dengan kendaraan umum atau mobil sewaan.

Desa ini berada di ketinggian sekitar 1.045 meter dari permukaan lau, dan merupakan salah satu kampung adat tersisa yang masih ada di Flores, NTT.

Daya tarik dari Kampung Adat Wologai adalah keunikan arsitektur bangunan berbentuk kerucut dan eksterior bangunan berupa ukir-ukiran mengisahkan keseharian masyarakat adat setempat.

Baca Juga :  5 Destinasi Wisata di Indonesia Ini Bikin Paru-paru Tidak 'Cepat Tua'

(wiw/wiw)

[Gambas:Video CNN]