Jangan Stigmatisasi Cacar Monyet Terkait LGBT

Jakarta, c4d-forum.de

Penyakit cacar monyet yang saat ini telah ditetapkan sebagai darurat kesehatan global sering disamakan dengan penyakit menular seksual padahal ini tidaklah benar. 

Bukan hanya itu, cacar monyet juga kerap dikaitkan sebagai penyakit yang menular di kalangan gay atau pria yang berhubungan seks dengan pria lainnya.

Padahal hingga saat ini belum ada penelitian yang membenarkan hal tersebut. Walau penyakit ini memang banyak ditemukan di kalangan pria yang melakukan seks dengan pria lain atau kerap berganti-ganti pasangan.

Terkait hal ini, juru bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril juga meminta masyarakat tidak menstigma penyakit cacar monyet sebagai PMS, terutama pada kelompok gay. Lagi pula penyakit ini tidak sama dengan sipilis, gonore, HIV-Aids atau masalah kesehatan lain akibat seks.

Cacar monyet kata dia, bisa menular melalui sentuhan dengan lesi atau ruam pada pasien, cairan tubuh, droplet, hingga sentuhan dengan benda yang terkontaminasi seperti handuk, sprei, sarung bantal, dan barang lainnya.

“Bukan hanya karena (hubungan) seksual seperti halnya HIV atau Aids. Tapi bisa tertular karena kontak dengan virusnya,” kata Syahril dalam konferensi pers terkait Monkeypox di Indonesia yang diselenggarakan secara daring, Rabu (28/7).

Syahril juga menegaskan penanganan dan pengawasan penyakit cacar monyet jangan sampai bersifat diskriminatif. Terutama kepada kelompok LGBT. Sebab penyakit ini memang bisa menulari siapa saja tanpa memandang orientasi seksual.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan penyakit infeksi, Robert Sinto. Kata dia, cacar monyet bukanlah penyakit menular seksual. Hubungan seksual hanya salah satu medium penularan karena ada kontak dekat saat kegiatan itu dilakukan.

Baca Juga :  Pengidap Asam Lambung Boleh Minum Susu, Tapi dengan Syarat

“Tidak dikatakan (cacar monyet) penyakit menular seksual. Tapi kenapa dihubung-hubungkan dengan cerita seksual tadi? Yang mau digarisbawahi adalah, penularannya tetap melalui jalur droplet dan lewat jalur kontak,” kata Robert.

(tst/chs)

[Gambas:Video CNN]