Mengenal Makgeolli, Minuman Alkohol Korea Selatan Selain Soju

Jakarta, c4d-forum.de

Bukan hanya soju, minuman Korea Selatan (Korsel) yang juga tak kalah populer adalah makgeolli. Minuman ini juga sering muncul di berbagai drama Korea.

Lantas bagaimana sejarah makgeolli?

Dikutip dari CNN Travel, Minggu (29/7), makgeolli adalah kombinasi dari kata Korea “mak” yang berarti “dilakukan secara kasar” atau “beberapa saat yang lalu” dan geolleun yang berarti “disaring”. Nama Makgeolli pertama kali muncul di “Gwangjaemulbo”, ensiklopedia yang diduga ditulis pada abad ke-19. Sebuah catatan awal abad ke-20 kemudian mengklaim bahwa makgeolli dikonsumsi di setiap sudut Korea.

“Makgeolli melekat pada budaya Korea, itu minuman orang Korea,” kata Profesor Global Cyber University Seoul Kim Kyung-seop yang mengonsumsi Makgeolli sejak 1980-an.

Salah satu alasan popularitas Makgeolli adalah kesederhanaannya. Minuman itu terbuat dari campuran nasi kukus, ragi dan air yang dibiarkan berfermentasi selama beberapa minggu dalam pot tanah liat.

Namun, penjajahan Jepang selama paruh pertama abad ke-20 mengakhiri banyak industri minuman rumahan. Semua pembuatan alkohol dikenai pajak dan wajib memiliki berlisensi, bahkan untuk konsumsi sendiri. Beberapa minuman yang diproduksi secara massal serta mendominasi pasar dan pembuatan bir rumah dilarang pada 1934.

Saat krisis makanan pada 1960-an, penggunaan beras yang merupakan bahan utama makgeolli dilarang untuk memproduksi minuman beralkohol. Produsen kemudian mengganti beras dengan gandum dan jelai, tetapi itu membuat popularitas makgeolli tenggelam.

Makgeolli digantikan oleh soju modern, minuman keras bening yang dibuat dengan mengencerkan etanol.Ketika ekonomi membaik dan pasokan beras melebihi konsumsi, larangan alkohol beras dicabut pada 1989 dan pembuatan bir rumahan disahkan lagi pada 1995. Namun banyak tradisi terkait makgeolli yang hilang.

Baca Juga :  Bacaan Niat dan Doa Buka Puasa Senin Kamis beserta Artinya

Pemulihan seni pembuatan bir makgeolli yang hilang sebagian besar ke peneliti perintis seperti Park Rock-dam. Ia melakukan perjalanan melintasi Korea selama 30 tahun mengumpulkan resep dan menciptakan kembali teknik lama.

Pemerintah juga mengubah arah kebijakan sebelumnya, merangkul alkohol tradisional sebagai warisan yang membanggakan dan berpotensi menguntungkan industri. Pada 2016, pemerintah mengizinkan pabrik dan penyulingan skala kecil untuk menjual minuman beralkohol mereka dengan menurunkan persyaratan ukuran tangki pembuatan bir dari 5.000 menjadi 1.000 liter.

Beberapa tahun kemudian, minuman beralkohol tradisional diberi hak istimewa yang unik untuk dijual secara online dan dikirimkan langsung ke konsumen. Pada saat covid-19, penjualan makgeolli bahkan melonjak baik secara online maupun offline.

Menurut laporan, Korea Agro-fisheries and Food Trade Corporation produk pertanian, pasar makgeolli tumbuh sebesar 52,1 persen, sedangkan total pasar minuman keras menyusut 1,6 persen pada 2020.

Makgeolli juga telah menembus pasar internasional. Salah satu penjual bernama Kim Min-kyu mengatakan makgeolli-nya akan dijual di AS dan Austria tahun ini dan pembeli Barat lainnya telah mendekatinya. Ia mengatakan minuman itu telah menjadi populer di 2000an sejak gelombang K-pop dan K-drama melanda dunia.

“Untuk konsumen asing, fermentasi alami ini dianggap sehat, organik dan bersih. Dan ini adalah jenis alkohol yang belum pernah mereka lihat sebelumnya,” kata Min-kyu.

[Gambas:Video CNN]

(fby/lth)