Menikmati Aksi Bocah Penyelam Koin di Danau Toba

Jakarta, c4d-forum.de

“Kak, lempar lah kak!” teriak bocah-bocah berusia sekitar 10 tahunan kepada setiap wisatawan yang meramaikan sore hari di Pantai Bebas, Parapat, Danau Toba.

Sejumlah wisatawan asal Jakarta yang baru kali pertama menginjakkan kaki di Danau Toba sore mulanya heran dengan teriakan permintaan bocah-bocah itu.

Salah satu bocah kemudian menghampiri wisatawan tersebut dan menjelaskan bahwa mereka meminta agar pengunjung melempar uang koin ke dalam air. Setelah itu mereka akan melompat dari tepian Pantai Bebas dan menyelam mengejar koin yang dilempar.

Sore itu ada tiga bocah laki-laki bertelanjang dada yang merengek agar wisatawan segera melempar koinnya. Meski masih anak-anak, postur tubuh mereka atletis, karena menurut penuturan warga sekitar, para bocah itu sudah lihai berenang sejak kecil.

Mendengar penjelasan tersebut, wisatawan asal Jakarta itu lantas merogoh kantongnya untuk mencari uang koin. Setelah berhasil mendapatkan uang koin itu diselipkan dengan uang selembaran sebesar Rp10 ribu.

Uang koin itu kemudian dilempar ke dalam air. Dalam hitungan detik, para bocah-bocah itu langsung melompat dari tepian dan menyelam ke dalam Danau Toba, berburu koin yang tadi dilempar.

Hal itu dilakukan berulang kali. Bocah-bocah itu bahkan sesekali melompat dari ketinggian, sambil menunjukkan beragam aksi gaya dan memamerkan keahlian berenangnya.

Selena Pasaribu, salah seorang warga setempat mengatakan bahwa lempar koin untuk dikejar bocah-bocah itu merupakan salah satu tradisi di sekitar Danau Toba. Menurut Selena, bocah-bocah itu biasa dikenal dengan nama Ciling atau penyelam koin.

“Itu mereka penyelam koin, pokoknya mereka minta koin atau enggak bilang lempar Ciling,” ujar Selena saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Rabu (10/8).

Baca Juga :  5 Mitos di Balik Keindahan Danau Toba

Menurut Selena tradisi ini sudah turun menurun. Namun, menurutnya baru beberapa waktu terakhir ini tradisi lempar koin itu dilakukan di tepian Pantai Bebas Danau Toba.

Selena menjelaskan bahwa biasanya aksi para Ciling itu dilakukan di dekat kapal yang akan berlabuh di Dermaga Parapat Danau Toba.

“Dulu sebelum Pantai Bebas dibangun, anak-anak it minta lempar koin di kapal,” jelas dia.

Warga lainnya, Dedi berujar bahwa bocah-bocah itu sebetulnya ‘ngamen’ untuk mendapatkan pundi-pundi uang dari wisawatan. Kendati begitu, uang bukan tujuan utama mereka melakukan aksi menyelam untuk ambil koin.

Tujuan utama bocah-bocah itu berlatih berenang sambil bersenang-senang bersama teman-temannya.

Selain keriuhan dari para penyelam koin, sore itu kawasan Pantai Bebas Danau Toba juga ramai dengan wisatawan ataupun penduduk setempat yang ingin menikmati matahari terbenam.

Jam menunjukkan waktu pukul 18.13 WIB. Matahari perlahan tenggelam dan membuat hamparan ai danau berwarna hijau emerald berbaur dengan rona merah kekuningan menjadikan pemandangan yang sempurna untuk menikmati senja di Danau Toba.

Pengunjung juga bisa menikmati langit senja di Danau Toba dari Panggung Geladak. Dari sana hamparan danau vulkanik yang terbentuk dari letusan gunung api puluhan ribu tahun lalu dan pulau-pulau yang berada di seklilingnya dapat terlihat jelas.

Beberapa pengunjung terlihat asyik berfoto-foto. Di anjungan tepi pantai itu juga beberapa warga lokal menjajakan dagangannya seperti mie instan dalam cup atau kaca mata hitam.

Sementara ada juga yang hanya duduk-duduk sambil bersenda gurau dengan keluarga ataupun teman-temannya di amphiteater di bawah Patung Selamat Datang.

Patung Selamat Datang ini berbeda dengan yang ada di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Patung Selamat Datang di Pantai Bebas ini terdiri dari pria dan wanita yang mengenakan pakaian khas Batak.

Baca Juga :  Perlu Tahu, Ini Kadar Kolesterol Normal Berdasarkan Usia

[Gambas:Video CNN]

(lth)