Menjelajahi Sumatera Utara, Tanah Penuh Kenangan dan Nostalgia

Jakarta, c4d-forum.de

Hempasan angin menerpa wajah begitu saya turun dari pesawat dan menjejakkan kaki di Bandara Internasional Silangit, Sumatera Utara. Angin begitu kencang dan dingin menusuk badan.

Ketika melihat layar smartphone, aplikasi cuaca menunjukkan suhu 25 derajat celcius. Suhu tersebut cukup dingin, mengingat saat itu baru pukul 13.45 WIB ketika saya menginjakkan kaki di bandara yang terletak di Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Suara seorang pria memecah lamunan saya yang sedang menganggumi indahnya alam di Tanah Sumatera Utara.

“Butuh taksi, Pak? Mau di antar ke mana, Pak?” kata pria berumur sekitar 40 tahunan itu menawarkan jasanya kepada saya.

Saya menolak tawaran tersebut, lantaran sudah ada sopir yang disiapkan selama saya di Sumatera Utara mengikuti program Jelajah #SerunyaIndonesia bersama TikTok.

Dalam program Jelajah #SerunyaIndonesia bersama TikTok ini, saya akan menelusuri sejumlah daerah di Sumatera Utara selama tiga hari, mulai Rabu (10/8) sampai Jumat (12/8). Tujuan pertama, Danau Toba.

Sopir kemudian langsung memacu mobil Kijang Innova meluncur ke tempat tujuan saya hari itu di Danau Toba. Namun, di tengah jalan cacing-cacing di perut sudah mulai bernyanyi seakan meminta jatah.

Akhirnya saya meminta supir untuk menepi di salah satu warung makan di pinggir jalan, mengingat waktu tempuh dari Bandara Silangit ke Pantai Bebas Parapat Danau Toba, tujuan pertama saya, hampir dua jam menggunakan mobil.

Kami pun berhenti di rumah makan Sinar Minang untuk mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan. Tak ada yang khusus atau berbeda dari menu di restoran ini.

Namun, yang menarik perhatian saat itu adalah ketika pelayan menawarkan teh mandi kepada saya. Saya pun bingung, apa itu teh mandi?

“Teh mandi itu singkatan dari teh manis dingin,” kata sopir yang menemani saya saat itu. Ternyata, orang-orang di Sumatera Utara lebih akrab menggunakan istilah teh mandi daripada es teh manis.

Setelah sekitar 30 menit menghabiskan makanan untuk mengisi perut, saya melanjutkan perjalanan.

Sunset di Pantai Bebas Danau Toba

Waktu di jam tangan menunjukkan pukul 17.06 ketika saya tiba di Pantai Bebas Parapat Danau Toba. Pantai ini terletak di Kelurahan Parapat, Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.

Pantai tersebut berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 10.000 meter persegi. Setibanya di sana, saya langsung disuguhkan pemandangan hamparan air Danau Toba berwarna hijau emerald.




Senja di Danau Toba. (Foto: c4d-forum.de/Damar Iradat)

Pantai ini baru saja selesai direvitalisasi dan pada Februari 202 diresmikan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. Di Pantai terdapat Patung Selamat Datang, yang terdiri dari pria dan perempuan menggunakan pakaian adat khas Batak.

Ada juga amphiteater, anjungan tepi pantai, hingga Panggung Geladak yang bisa menjadi tempat menikmati keindahan Danau Toba. Sore itu suasana di Pantai Bebas Parapat Danau Toba cukup ramai.

Seorang pria tampak penuh dengan peluh keringat usai jogging sore di kawasan tersebut. Di tempat lain, ada dua perempuan yang hanya duduk-duduk sekadar berswafoto bersama anjing peliharaannya menanti matahari terbenam.

Pantai Bebas Parapat Danau Toba menjadi salah satu lokasi terbaik menyaksikan sunset. Air danau berwarna hijau emerald berbaur dengan rona merah kekuningan menjadikan pemandangan yang sempurna untuk menikmati senja di Danau Toba.

Selagi menikmati momen matahari terbenam sambil berfoto-foto, teriakan bocah-bocah berumur sekitar 10 tahunan memecah keheningan.

Mereka tiba-tiba menghampiri saya, sambil merengek meminta saya melempar koin ke dalam air danau.

“Bang, lempar lah bang!” teriak bocah-bocah tersebut.

Menurut penuturan warga sekitar, bocah-bocah itu biasa disebut penyelam koin atau Ciling. Mereka ‘mengamen’ untuk bisa menambah pundi-pundi uangnya.

Selena Pasaribu, salah seorang warga setempat mengatakan bahwa lempar koin untuk dikejar bocah-bocah itu merupakan salah satu tradisi di sekitar Danau Toba.

“Itu mereka penyelam koin, pokoknya mereka minta koin atau enggak bilang lempar Ciling,” ujar Selena.

Menurut Selena tradisi ini sudah turun menurun. Namun, baru beberapa waktu terakhir ini tradisi lempar koin itu dilakukan di tepian Pantai Bebas Danau Toba.

Biasanya aksi para Ciling itu dilakukan di dekat kapal yang akan berlabuh di Dermaga Parapat Danau Toba.

“Dulu sebelum Pantai Bebas dibangun, anak-anak itu minta lempar koin di kapal,” jelas dia.

Kendati begitu, uang bukan tujuan utama mereka melakukan aksi menyelam untuk ambil koin. Tujuan utama bocah-bocah itu berlatih bernang sambil bersenang-senang bersama teman sepantaran.

Ngopi di Kafe Legendaris dan Berkeliling Naik Becak Siantar Asli

Tak sampai 24 jam saya berada di kawasan Danau Toba. Setelah bermalam di salah satu hotel di tepian Danau Toba, saya dan tim Jelajah #SerunyaIndonesia melanjutkan perjalanan usai sarapan.

Destinasi berikutnya, Kota Pematang Siantar. Perjalanan dari Parapat menuju Kota Pematang Siantar memakan waktu kurang lebih dua jam melalui jalur darat.

Setelah berangkat dari hotel pukul 08.37 WIB, kami tiba di kedai kopi Massa Kok Tong sekitar pukul 10.40 WIB. Kedai kopi ini terletak di persimpangan jalan Dr Wahidin dan Jalan Cipto.

Siang itu, suasana di kedai kopi itu sudah hiruk pikuk suara berisik pengunjung yang sedang mengobrol diselingi sahut-sahutan pelayan mencatat pesanan. Di sana, kami janjian bertemu dengan salah satu content creator TikTok, Firly Adhyatma, pemilik akun @firlyafro.




Kopi Massa Kok Tong, salah satu tempat legendaris di Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara. Kopi ini sudah ada sejak 1925 dengan cita rasa yang khas. Selain kopi hitam, salah satu menu andalan lainnya adalah roti bakar srikaya.Kopi Massa Kok Tong, salah satu tempat legendaris di Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara. Kopi ini sudah ada sejak 1925 dengan cita rasa yang khas. Selain kopi hitam, salah satu menu andalan lainnya adalah roti bakar srikaya. (Foto: c4d-forum.de/Damar Iradat)

Kedai kopi yang berdiri sejak 29 Juni 1925 ini salah satu yang tertua, bukan hanya di Sumatera Utara, tapi juga Indonesia. Siang itu saya memesan kopi hitam panas yang menjadi menu andalan dan roti bakar srikaya.

Kedai kopi ini sejatinya hanya menyediakan menu kopi dan roti bakar, akan tetapi di samping kedai itu terdapat sejumlah gerobak penjual makanan yang tak berhubungan langsung dengan Kopi Massa Kok Tong. Deretan gerobak itu menyajikan menu alternatif, mulai dari bakpau hingga mie ayam.

Usai berbincang-bincang dengan Firly, saya dan tim Jelajah #SerunyaIndonesia meminta waktu untuk mencari makanan untuk mengisi perut. Satu yang muncul di benak saya saat itu adalah mencicipi bakmi pangsit khas Siantar.

Makanan itu memang menjadi salah satu menu khas asal Siantar. Namun, tantangannya adalah mencari bakmi pangsit halal, karena bakmi khas Siantar selalu menyertakan unsur babi dalam makanannya.

Sayangnya, usaha saya mencari bakmi khas Siantar berlabel halal saat itu tak berhasil. Akhirnya, anggota tim yang mayoritas memeluk agama Islam memutuskan makan siang di Rumah Makan Beringin Indah 2.

Restoran yang berlokasi di Jalan Pematang Siantar-Tebing Tinggi itu terkenal dengan menu khasnya, burung goreng.




Burung Goreng di RM Beringin Indah 2 SiantarBurung Goreng di RM Beringin Indah 2 Siantar. (Foto: c4d-forum.de/Damar Iradat)

Selain burung goreng, restoran ini menyajikan menu-menu seperti kebanyakan restoran khas Indonesia lainnya, semisal tumis kangkung, gado-gado, hingga ayam goreng.

Saat itu saya memesan dua ekor burung puyuh goreng dan tiga ekor burung ruak-ruak goreng. Untuk satu ekornya, burung puyuh goreng dihargai Rp15 ribu, sementara burung ruak-ruak goreng Rp20 ribu.

Menu-menu di RM Beringin Indah 2 tergolong murah. Untuk seporsi gado-gado hanya dihargai Rp16 ribu, sementara tumis kangkung Rp13 ribu, serta tahu dan tempe goreng Rp15 ribu.

Setelah mengisi perut, kami memutuskan untuk berkeliling Kota Pematang Siantar menggunakan Becak Motor atau Bentor. Moda transportasi ini merupakan salah satu ciri khas Siantar.

Pasalnya, yang digunakan dalam bukan motor sembarangan, melainkan motor gede atau moge merek Birmingah Small Arms (BSA) yang legendaris. Motor itu pernah digunakan penjajah Belanda dan sekutunya pada masa kolonial.

Saking lekatnya dengan Siantar, singkatan BSA sering dipelesetkan sebagai Becak Siantar Asli. Bahkan, ada tugu Becak dengan motor BSA di depan Kantor Wali Kota Pematang Siantar.

Mulanya agak sulit mencari BSA. Beberapa kali saya hampir memberhentikan becak motor biasa, bukan yang menggunakan motor BSA.

Akhirnya, kami menemukan BSA ketika menyusuri Jalan Merdeka. Untuk bisa naik bentor keliling Siantar, saya hanya perlu mengeluarkan uang Rp30.000 untuk sekali perjalanan.




Becak motor (bentor) merupakan salah satu sarana transportasi legendaris dan ikonik di Kota Siantar, Sumatera Utara.Becak motor (bentor) merupakan salah satu sarana transportasi legendaris dan ikonik di Kota Siantar, Sumatera Utara. (Foto: CNN)

Sensasi menaiki bentor BSA asli memang berbeda. Sesekali becak yang saya tumpangi bergoyang naik turun ketika motor mengerem. Belum lagi suara motor tua yang cukup berisik menemani perjalanan saya saat itu. Namun, hal itu tak menjadi masalah dengan penglaman pertama kali menjajal bentor.

Saat itu saya mengitari Siantar mulai dari Jalan Merdeka, melewati Museum Simalungun, Tugu Becak, hingga Siantar Plaza dan kembali ke Jalan Merdeka lagi.

Setelah berkeliling Kota Siantar menggunakan bentor, saya dan tim melanjutkan perjalanan. Destinasi terakhir dalam perjalanan ini yakni Kota Medan.

Butuh waktu sekitar dua setengah jam untuk menempuh jarak sekitar 126 kilometer dari Pematang Siantar menuju pusat Kota Medan.

Setibanya di Medan, kami menaruh barang-barang dan beristirahat sejenak untuk melanjutkan makan malam. Saat itu, sopir kami menawarkan makan di Mi Bangladesh di Warkop AGEM yang terletak di Jalan Haji Misbah.

Mie Bangladesh merupakan salah satu kuliner unik khas Medan. Sebab, hidangan ini sejatinya terbuat dari mi instan biasa, namun disajikan dengan cara memasak yang berbeda, yakni ditambah bumbu rempah khas Aceh.
Namun, pengunjung dapat menambah sajian itu dengan telur setengah matang atau sate kerang.

Di sepanjang Jalan Haji Misbah sebetulnya berderet warung yang menjajakan Mi Bangladesh, namun menurut penuturan sopir saya saat itu, Warkop Agem merupakan salah satu warung yang paling terkenal.

Kebanyakan pengunjung merupakan mahasiswa, namun tak sedikit keluarga yang membawa anak-anaknya untuk menyantap sajian unik tersebut.

Selepas menyantap Mi Bangladesh, perut saya masih meminta jatah lebih. Perjalanan jauh melalui darat membuat saya mudah lapar kelihatannya.

Akhirnya saya meminta sopir untuk membawa saya ke tempat makan lain di Kota Medan. Salah satu yang direkomendasikan yakni Nasi Goreng Pemuda di samping Gedung Juang 45 Medan.

Nasi goreng di sini memiliki cita rasa yang khas, yakni dengan bumbu rempah dilengkapi irisan ayam dan telur goreng mata sapi. Harganya hanya dibanderol Rp17 ribu per porsi.


Menapaki Masa Lalu Kota Medan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Baca Juga :  Cara Meningkatkan Kualitas Puasa dari Tahun Sebelumnya