‘Pertolongan Pertama’ pada Anak Tantrum, Jangan Berikan Gadget

Jakarta, c4d-forum.de

Saat anak tantrum, orang tua jangan ikut tantrum. Orang tua perlu tahu pertolongan pertama yang tepat pada anak tantrum sehingga si buah hati bisa mengenal dan mengendalikan emosinya.

Grace E. Sameve, psikolog anak utama di ekosistem holistik parenting Tentang Anak, mengatakan bahwa tantrum memang lekat dengan anak. Tantrum terjadi karena anak belum tahu cara mengkomunikasikan pengalaman emosinya, didukung kemampuan bicara anak yang belum berkembang.

“[Ada yang beranggapan] umur segini tantrum hilang. Biasanya enggak gitu. Tantrum termasuk perilaku, perilaku perlu dilatih, dipelajari,” kata Grace, dalam webinar bersama Tentang Anak, Rabu (24/8).

Anak yang tantrum bisa menunjukkan perilaku yang memicu stres pada orang tua. Anak bisa menangis sambil berguling, berteriak, melempar barang, sampai melukai dirinya sendiri.

Jika hal itu terjadi, orang tua perlu melakukan ‘pertolongan pertama’ pada anak tantrum berikut ini.

1. Pastikan anak aman

Gianti Amanda, praktisi pendidikan anak usia dini Tentang Anak, menyarankan agar orang tua terlebih dahulu memastikan anak dalam kondisi aman. Menangani anak tantrum di tempat umum seperti mal tentu berbeda dengan tantrum di rumah.

“[Kalau di rumah] anak lempar barang, tapi sekitarnya aman, kita temani anak menjalani tantrumnya. Kalau di mal, tentu enggak bisa dibiarin. Kita angkat, lalu bawa ke tempat aman,” kata Gianti dalam kesempatan serupa.

2. Metode pernapasan 4-5-6




Ilustrasi. Metode pernapasan 4-5-6, salah satu cara mengatasi anak yang tantrum. (Istockphoto/fizkes)

Orang tua perlu menenangkan diri sebelum menenangkan anak. Grace menyarankan orang tua untuk mengambil jeda sementara anak bersama dengan pasangan, kakek atau neneknya, atau di area bermain jika kondisinya sedang di rumah. Kemudian Anda bisa menenangkan diri dengan metode pernapasan 4-5-6.

“Kita bisa berdiri, duduk, lalu agar lebih efektif menutup mata. Tarik napas selama 4 hitungan, tahan 5 hitungan, buang pelan lewat mulut 6 hitungan. Tujuannya untuk mengatur ulang keteraturan pernapasan kita. Secara tidak sadar, saat emosi intens, napas jadi enggak teratur,” jelasnya.

3. Temani anak

Kebanyakan orang tua menggunakan gawai sebagai cara menenangkan anak. Gianti mengakui, ini memang pertolongan paling cepat pada anak tantrum. Namun, cara ini sebenarnya ibarat bom waktu buat anak.

Sebaiknya, kata dia, anak ditemani. Orang tua tak perlu terlalu banyak bicara atau bertanya pada anak. Tapi, setidaknya anak tahu bahwa orang tua ada di sampingnya melalui gestur tubuh tertentu.

“Gestur badan kita [menunjukkan kita] bersama anak, dia tahu kita menemani. Kita bisa bilang ‘Bunda tunggu di sini’. Kalau anak ingin melanjutkan kegiatannya, mau main lagi, sebaiknya ditahan dulu, tunggu dulu sampai tenang,” katanya.

4. Ajak anak komunikasi

Saat sudah tenang, ajak anak komunikasi. Orang tua sebisa mungkin menggunakan nada bicara yang tenang, halus, atau jika memungkinkan cukup dengan berbisik. Di sini orang tua bisa mengenal kebutuhan anak, apa yang anak rasakan.

“Kalau bisa berbisik, nanti dia lebih dengerin. Kalau kita teriak, anak teriak,” kata Gianti.

5. Tawarkan solusi




ilustrasi orang tua dan anakIlustrasi. Ada beberapa cara mengatasi anak yang tantrum. (Istockphoto/ Fizkes)

Orang tua bisa mengikuti aktivitas yang diinginkan anak atau tawarkan solusi yang lebih sesuai dengan situasi.

“[Solusinya misal] ‘Kita main aja yuk’, ‘Kita baca buku yuk’. Tantrum itu ada grafiknya, itu akan turun,” ujar Gianti.

Seperti halnya orang dewasa yang ‘galau’ akan emosi yang dirasakan, anak pun bisa demikian. Kadang saat ditemani pun, tangisan anak bisa tambah keras atau lama.

(tim/asr)

[Gambas:Video CNN]


Baca Juga :  Sejarah Singkat Perayaan Hari Waisak di Indonesia