Polusi Suara, Bule Mabuk Berulah, dan Laut Kotor

Jakarta, c4d-forum.de

Petisi dengan judul ‘Basmi Polusi Suara di Canggu‘ di Change.org tengah menjadi perhatian. Sampai Senin (12/9/2022) pukul 11.00 WIB, petisi itu telah ditandatangani 6.859 orang.

Pembuat petisi tersebut adalah P Dian, yang keberatan dengan gangguan suara bising dari bar maupun club yang ada di Canggu, Bali. Menurut dia, gangguan suara itu terkadang berlangsung sampai pukul 4 pagi.

Dalam petisi itu, dia mengaku mewakili penduduk Bali dan terutama kami yang bekerja dan tinggal di Canggu. P Dian menyebut bahwa penduduk sekitar tidak bisa beristirahat atau tidur malam, karena suara musik dari bar atau club begitu menggelegar hingga membuat kaca jendela dan pintu bergetar.

Dia juga mempertanyakan bagaimana bar-bar dan club-club yang tidak mengindahkan meski telah ditegur keras oleh pihak Satpol PP, karena menyebabkan suara bising yang mengganggu warga bahkan sampai pagi hari.

Dalam petisi itu, P Dian juga menyampaikan surat terbuka kepada pejabat-pejabat seperti, Presiden Joko Widodo, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Gubernur Bali, I Wayan Koster, dan Bupati Kabupaten Badung I Nyoman Giri Prasta, Kepala Satpol PP Provinsi Bali Dewa Nyoman Rai Dharmadi, bahkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri.

“Tentunya bukan strategi pemerintah untuk mentargetkan Bali yang begitu tinggi nilai kesuciannya untuk wisatawan murahan yang datang hanya untuk berhura-hura, karena di negara asal mereka jelas-jelas mereka tidak diperbolehkan untuk membuat kegaduhan seperti yang mereka lakukan di pulau Bali ini. Pendapatan pemerintah dari wisata murahan ini sambil nama Bali dirusak habis-habisan di dunia internasional, tentunya tidak sebanding dengan hilangnya pendapatan dari villa-villa hotel-hotel setempat karena ribuan yang sudah angkat kaki tidak lagi mau tinggal di area Canggu dan bahkan tidak mau lagi datang ke Bali,” tulisnya dalam petisi itu.

Baca Juga :  Ditinggal 4 Bulan di Bandara, Ikan Cupang Ini Bertemu Pemiliknya Lagi




Suasana kawasan Canggu, Bali. (Foto: c4d-forum.de)

Selain itu, dia juga heran dengan lokasi club yang dibangun diĀ Canggu terlalu dekat dengan pura, bahkan pura yang sakral dan suci seperti Pura Kahyangan. Turis-turis yang mabuk sepulang dari pesta, kata dia, juga kerap membuat masalah dari mulai perkelahian, kebut-kebutan, sampai menimbulkan kecelakaan yang memakan korban.

Dia juga berpendapat bahwa, beberapa bar-bar yang berdiri di daerah pantai ini juga menimbulkan masalah lingkungan, karena terlalu dekat dengan laut. Dia menambahkan, sisa sampah pesta di beach club berserakan di laut hingga mengotori laut.

“Dengan ini, kami mohon dengan sangat kepada pemerintah untuk segera ditetapkannya peraturan ketat dengan sanksi resmi dan berat, dengan dipantau secara ketat oleh Satpol PP. Kami tidak lagi bisa berdiam diri, karena pulau Bali kita yang indah masih bisa kita selamatkan bersama. Kebudayaan kami yang begitu sakral dilenyapkan oleh pelaku-pelaku hura-hura demi bisnis uang mereka pribadi semata-mata dengan mengorbankan kepentingan ribuan orang lain dan ‘basic human rights’ kebanyakan orang untuk beristirahat,” bunyi pertanyaan di petisi itu.

(wiw/wiw)

[Gambas:Video CNN]