Protein Hewani, Asupan Penting Pencegah Stunting: Penuhi Sejak Hamil

Jakarta, c4d-forum.de

Meski sudah digalakkan sejak lama, namun stunting masih jadi musuh besar kesehatan di Indonesia. Menurut Kemenkes RI, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kurang gizi kronis dan infeksi berulang yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.

Stunting pada anak menyebabkan terganggunya perkembangan otak, metabolisme tubuh, dan pertumbuhan fisik.

Bukan cuma masalah kesehatan, stunting nyatanya juga berefek pada perekonomian. Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyebut kasus anak gagal tumbuh alias stunting menyebabkan kerugian Indonesia hingga lebih dari Rp300 triliun setiap tahunnya.

Sementara berdasarkan kajian Bank Dunia, kerugian ekonomi akibat stunting dan kekurangan gizi mencapai 2-3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyebut kasus anak gagal tumbuh alias stunting menyebabkan kerugian Indonesia hingga lebih dari Rp300 triliun setiap tahunnya. Sementara berdasarkan kajian Bank Dunia, kerugian ekonomi akibat stunting dan kekurangan gizi mencapai 2-3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara.

Hal itu Ma’ruf sampaikan saat memberikan sambutan dalam acara Rapat Kerja Nasional Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) yang ke-3.
“Bagi Indonesia, total kerugian akibat stunting mencapai lebih dari Rp300 triliun setiap tahunnya,” kata Ma’ruf, Sabtu (26/3) lalu.

Tak dimungkiri, faktanya, pada 2015 lalu Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan jumlah anak pendek terbanyak kelima di dunia setelah Tiongkok, India, Nigeria, dan Pakistan. Selain faktor genetik yang tidak dapat dihindari, banyak kasus terjadi lantaran anak Indonesia kekurangan gizi semenjak bayi.

“Stunting sebenarnya bisa dicegah. Bukan cuma sejak anak bayi, tapi seharusnya sejak ibunya hamil,” kata Ika Setyani, ahli gizi dan humas Asosiasi Dietisien Indonesia (ASDI) kepada CNNIndonesia.com.

Kementerian Kesehatan sendiri mencanangkan program pencegahan stunting sejak 1000 hari pertama kehamilan.

Baca Juga :  7 Kebiasaan Penyebab Gagal Ginjal, Biasa Dilakukan Sehari-hari

Yang harus disadari, stunting sebenarnya bukan cuma soal kerdil secara fisik. Jika sudah menyangkut gizi, gagal tumbuh juga bisa berarti permasalahan dalam sisi kognitif si anak.

Ciri-ciri Stunting

Setidaknya ada dua syarat untuk menyebut anak sebagai orang yang mengalami stunting, yakni malnutrisi dan mengalami infeksi kronis.

Ciri-ciri gagal tumbuh hanya ditandai dengan grafik berat badan bayi yang tidak mengalami kenaikan, cenderung stagnan bahkan menurun. Penelitian di banyak negara termasuk Indonesia menunjukkan ciri-ciri anak gagal tumbuh rata-rata mulai terlihat saat masuk usia tiga bulan.

Berbagai perkembangan anak ini bisa dipantau melalui grafik KIA (Kartu Kesehatan Ibu dan Anak) atau KMS (Kartu Menuju Sehat) yang tersedia di rumah sakit dan posyandu.

Sumber protein hewani

Ika mengungkapkan salah satu penyebab stunting adalah kekurangan asupan protein, khususnya protein hewani.

“Hanya saja permasalahannya kebanyakan ibu hamil ini kurang asupan protein, khususnya protein hewani.”

“Kebanyakan ibu hamil di Indonesia itu mengalami KEP alias Kekurangan Energi Protein.”




Foto: c4d-forum.de/Safir Makki
Warga membawa balita untuk diperiksa kesehatan di posyandu Kelurahan Kapuk Muara, Jakarta Utara, Senin, 27 Maret 2017. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia ada di urutan kelima jumlah anak dengan kondisi stunting. Di seluruh dunia, diperkirakan ada 178 juta anak di bawah usia lima tahun pertumbuhannya terhambat karena stunting. Stunting adalah kondisi gizi kronis karena asupan gizi yang kurang dalam waktu lama. Kondisi kurang asupan gizi terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Akibatnya, pertumbuhan terhambat dan perkembangan otak tidak maksimal. Berikutnya, kemampuan mental tidak standar, kurang dalam kemampuan belajar, hingga prestasi sekolah yang buruk. c4d-forum.de/Safir Makki

Ibu hamil sendiri membutuhkan asupan protein yang jauh lebih tinggi dibanding dengan wanita dewasa lainnya. Jika wanita dewasa membutuhkan 20-25 persen dari kebutuhan per harinya maka ibu hamil butuh sekitar 35 persen dari kebutuhan total hariannya.

Ika mengungkapkan bahwa kebanyakan ibu hamil berpikir hanya asupan asam folat dan mineral lain yang dibutuhkan. Selain itu, ketika berpikir membutuhkan asupan protein, maka yang terpikir adalah protein nabati misalnya tempe dan tahu.

“Ini tak salah, tapi dalam urusan pencegahan stunting, protein hewani lebih dianjurkan.”

Ditambahkannya, protein hewani ini jauh lebih mudah diserap dalam tubuh dibandingkan dengan protein nabati. Protein hewani, katanya, memiliki nilai biologis lebih tinggi sehingga lebih bermanfaat buat ibu hamil dalam mencegah stunting atau gagal tumbuh.

Meski demikian, dia tak menampik bahwa protein nabati juga bermanfaat buat mencegah stunting. Hanya saja, jumlah yang harus dimakan jauh lebih banyak lantaran kandungan vitamin B12 yang lebih sedikit.

“Sumber vitamin B12 yang paling baik dan paling banyak ada dari protein hewani.”

Lalu apa yang jadi masalah soal asupan protein hewani?

“Banyak ibu hamil yang berpikir kalau untuk dapat protein hewani ini harus mahal, misalnya harus dari ikan salmon. Padahal enggak juga, ada yang murah,” kata Ika.

“Salah satu sumber protein hewani yang murah merah itu misalnya dari daging sapi, ikan lele, mujair, ayam, bahkan ikan teri dan telur. Faktanya telur itu adalah salah satu protein hewani paling sempurna.”

“Cuma kalau ikan teri, ibu hamil jangan terlalu banyak, karena ini asin takutnya darah tinggi dan bengkak.”

(chs)

[Gambas:Video CNN]