Putri Diana dan Warisannya untuk Kesehatan Mental

Jakarta, c4d-forum.de

Tepat 25 tahun lalu, pada 31 Agustus 1997, sebuah kabar membuat dunia berduka. Putri Dina meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil.

Meski bukan selebriti, tapi sosok Putri Diana begitu dikenal oleh dunia. Ia dikenal memiliki kepedulian terhadap banyak hal, termasuk salah satunya menyoal kesehatan mental.

Pengaruh ini dijuluki sebagai ‘The Diana Effect’, yang merupakan hasil dari keberaniannya menyuarakan kisah-kisah pedihnya. Lewat hal tersebut, Diana berupaya untuk menekan stigma terhadap masalah mental.

Apa saja yang pernah didorong oleh Putri Diana terkait isu kesehatan mental? Berikut beberapa diantaranya, mengutip berbagai sumber.

Diana berani terbuka bicara masalah kesehatan mental

Di hari-hari terakhir pernikahannya, Diana jujur tentang ketidakbahagiaan yang dirasakannya dalam pernikahannya dengan Pangeran Charles. Dia juga bicara soal kerusakan emosional yang diakibatkan oleh permasalahan tersebut.

Mengutip Healthline, dalam sebuah rekaman audio yang dibuatnya untuk jurnalis Andrew Morton, Diana berbicara terus terang tentang pelecehan emosional yang dialaminya. Termasuk juga soal ketidaksetiaan dalam pernikahannya.

Tak tanggung-tanggung, Diana juga bercerita tentang bulimia hingga keinginannya untuk mengakhiri hidupnya. Bulimia adalah gangguan makan yang ditandai dengan kecenderungan untuk memuntahkan kembali makanan yang telah dilahap.

Pengakuan itu mengejutkan dunia. Sebuah studi bahkan menunjukkan adanya lonjakan orang yang melaporkan gangguan makan setelah Diana mencoba terbuka.

Diana mengingatkan pentingnya penanganan kesehatan mental




Ilustrasi. Putri Diana mendorong banyak orang untuk berani berbicara soal kesehatan mental. (Vladimir MASHATIN / AFP)

Tak cuma itu, pada sebuah konferensi tahun 1993 silam, Diana juga sempat bicara soal pentingnya penanganan masalah kesehatan mental.

“Bukankah normal untuk tidak bisa mengatasinya [tekanan mental] sepanjang waktu? Bukankah normal bagi wanita maupun pria untuk merasa frustasi dengan kehidupan? Bukankah normal untuk merasa marah dan ingin mengubah situasi yang menyakitkan?” ujar Diana bertanya.

“Mungkin kita perlu melihat lebih dekat penyebab penyakitnya daripada berusaha menekannya. Menerima bahwa menutup perasaan dan emosi yang kuat bukan-lah pilihat yang sehat,” tambah Diana.

(del/asr)

[Gambas:Video CNN]


Baca Juga :  Hukum Menonton Drakor dan Main Game Online saat Puasa