Apa Salahnya Kerja Sesuai Argo dan Pulang Tenggo?

Jakarta, c4d-forum.de

Memangnya kenapa kalau kerja sesuai ‘argo’ alias job desk? Kenapa salah dengan pulang tenggo alias on time? Kenapa ini disebut quiet quitting

Sebenarnya Tak salah memang menerapkan quiet quitting, sebuah tren ‘lama yang dibumbui dengan nama baru’ tentang bekerja secukupnya saja. Siti Khairunisa, Manager PT Reeracoen Indonesia, mengatakan dalam pengertian sederhana quiet quitting bisa berarti bekerja sesuai ‘argo’.

Seorang karyawan bekerja sesuai apa yang tertulis dalam offering letter yang disepakati bersama. Namun apa salahnya? Kuncinya terletak pada apakah Anda sudah bekerja semaksimal mungkin pada job desk yang sudah disepakati, bukan soal mengerjakan hal-hal di luar job desk Anda.

“Ya sudah, ini saja yang dikerjakan. Mungkin bisa juga quiet quitting disebut buruh karena mengerjakan itu saja misal buruh manufaktur, tugasnya mengecek jahitan, ya sudah itu saja yang dikerjakan,” kata Siti saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Tren quiet quitting sebenarnya sudah marak sejak pandemi. Demi memangkas pengeluaran, banyak perusahaan memangkas karyawan. Barangkali biasanya satu tugas dikerjakan lima orang, kemudian terpaksa dikerjakan satu orang karena empat lainnya diberhentikan.

Karyawan yang merasa pekerjaannya berlebih atau mengerjakan di luar job desk keluar dan mencari pekerjaan baru. Siti berkata mereka yang keluar akan memastikan tugas dan tanggung jawabnya sebelum teken kontrak dengan perusahaan baru.

“Jam kerja pun enggak mau melebihi jam kerjanya. Apalagi kalau sejak Covid-19 banyak WFH. WFO bikin orang rentan pindah kerja karena terbiasa dengan WFH atau hybrid,” imbuhnya.




Foto: iStock/valentinrussanov
Ilustrasi bekerja

Kesadaran akan kesehatan mental pun meningkat sehingga karyawan ingin mengurangi stres dan menghindari burn out. Quiet quitting dianggap sebagai formula yang pas.

Namun Siti mengingatkan penerapan quiet quitting dalam jangka panjang bisa memicu ‘efek samping’. Dia berkata quiet quitting lama-kelamaan bisa memicu burnout sebab kerja itu-itu saja tanpa ada perkembangan.

Efek samping berikutnya, ada risiko untuk diberhentikan sebab perusahaan merasa karyawan dinilai ‘stuck’, tak ada perkembangan dan tidak memberikan kontribusi berarti.

“Perusahaan kebanyakan akan menaikkan jabatan dan gaji dari seberapa challenge yang diambil dan seberapa perkembangannya untuk memajukan perusahaan. Ya perusahaan juga butuh orang yang kerja pada tempatnya, konstan, loyal. Perusahaan butuh buruh tapi kalau digantikan robot gimana?” katanya.

Siti pun menyarankan untuk menerapkan strategi kerja yang lebih baik. Anda tidak harus sepenuhnya menganut ‘hustle culture’ atau quiet quitting terus-menerus. Justru keduanya bisa dikombinasikan. Ada waktunya gas pol dengan hustle culture, ada waktunya ‘mengerem’ dengan quiet quitting.

Berkebalikan dengan quiet quitting, hustle culture percaya waktu adalah berharga sehingga harus dimanfaatkan untuk bekerja keras. Dalam periode waktu tertentu, ‘hustle’ diperlukan sehingga Anda bisa mengembangkan diri lewat memanfaatkan setiap waktu dan kesempatan.

“Kalau butuh istirahat, misal bulan ini kerja saja sesuai apa yang ada sambil cari apa yang kita mau, cari yang memotivasi, restart lagi. Kalau hustle terus capek, kalau quiet quitting terus nanti enggak berkembang. Kenapa enggak dikombinasikan?” ujarnya.

(els/chs)

[Gambas:Video CNN]


Baca Juga :  Setelah Quiet Quitting, Kini Muncul Quiet Firing, Apa Lagi Itu?