Quiet Quitting Dinilai Jadi Cara Mencapai ‘Work-Life Balance’

Jakarta, c4d-forum.de

Belakangan ini, fenomena quiet quitting ramai dibicarakan di media sosial. Istilah ini merujuk pada perilaku bekerja apa adanya atau sesuai ‘argo’.

Tren ini disebut merebak di kalangan generasi muda. Viral di TikTok, quiet quitting menjadi pembicaraan banyak orang.

Tak sedikit orang yang menganggap konsep quiet quitting bermanfaat untuk kesejahteraan mental.

Psikolog Marissa Meditania tak menampik manfaat kesehatan mental yang didapat dari konsep quiet quitting. Dengan cara ini, menurutnya, pekerja bisa lebih sadar akan kemampuan diri dan mengetahui batasan serta waktu untuk istirahat.

Quiet quitting ini adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan work-life balance,” kata Marissa, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (2/9).

Lewat quiet quitting, pekerja juga dinilai bisa lebih mengenal dan peka terhadap apa yang dibutuhkan diri sendiri.

Konsep ini juga disebut bukan sesuatu yang baru. Bekerja sesuai argo, menurut Marissa, sudah ada sejak lama.

“Jadi, sebetulnya sudah banyak juga yang mengadaptasi cara bikin aturan kerja dan bikin batasan waktu kerja,” ujar Marissa.

Bisa jadi negatif

Namun, Marissa mengingatkan bahwa quiet quitting tak sepenuhnya berdampak positif. Konsep ini bisa menjadi negatif jika pilihannya untuk bekerja sesuai argo tak dibicarakan dengan perusahaan.

Alih-alih meringankan masalah, hal ini justru bisa memicu timbulnya masalah lain tanpa adanya komunikasi antara pekerja dan perusahaan.




Ilustrasi. Quiet quitting juga bisa memberikan dampak negatif. (c4d-forum.de/Andry Novelino)

“Dengan cara apapun yang digunakan, entah quiet quitting, entah hustle culture, entah apapun caranya untuk beradaptasi untuk mencapai work-life balance, penting juga untuk mengomunikasikannya dengan pihak perusahaan,” tutur Marissa.

Selain itu, konsep ini juga dinilai bisa membuat pekerja tak punya kemampuan untuk mengembangkan diri. Dengan catatan, jika dilakukan secara berlebihan.

“Jika satu pekerja terlalu terpaku pada job desc atau tugas tertentu dan membuat batasan berlebihan bukanlah hal yang bijak, pekerja jadi tak bisa mengembangkan diri,” ujar Marissa.

Pada intinya, quiet quitting merupakan sesuatu yang lazim di dunia kerja, asalkan dikomunikasikan dengan baik demi mencapai konsep work-life balance.

(del/asr)

[Gambas:Video CNN]


Baca Juga :  Kesehatan Mental Pekerja di Singapura Terburuk se-Asia Tenggara