Sangat Mirip, Bagaimana Membedakan Gejala Awal HIV dan Flu?

Jakarta, c4d-forum.de

Gejala awal infeksi HIV menimbulkan gejala yang mirip seperti flu. Lantas, bagaimana cara membedakannya?

Infeksi HIV kini menjadi perbincangan. Gara-garanya, ratusan mahasiswa di Bandung, Jawa Barat yang ditemukan positif terinfeksi.

HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, orang yang terserang akan rentan terkena penyakit infeksi lainnya.

Infeksi HIV sendiri akan berlangsung dalam beberapa fase. Pada fase yang paling parah, infeksi akan berubah menjadi AIDS. Pada fase itu, sistem kekebalan tubuh mengalami kerusakan yang parah.

Sementara pada fase awal, HIV akan mengeluarkan beberapa gejala. Pasalnya, pada fase itu, tubuh mulai berupaya membentuk antibodi.

Namun, gejala yang ditimbulkan pada fase awal infeksi HIV terbilang sangat mirip dengan flu biasa. Akibatnya, tak sedikit orang yang terkecoh.

Beda Gejala Awal HIV dan Flu

Gejala awal HIV akan muncul dalam dua hingga empat pekan setelah terinfeksi. Berikut beberapa gejalanya, mengutip WebMD.

– demam,
– kelelahan,
– nyeri otot,
– ruam,
– sakit tenggorokan,
– pembengkakan kelenjar getah bening,
– diare,
– sariawan.




Ilustrasi. Demam jadi salah satu gejala awal HIV dan flu biasa. (Istockphoto/ vadimguzhva)

Demam, nyeri otot, hingga sakit tenggorokan menjadi gejala infeksi virus lainnya seperti flu, radang tenggorokan, bahkan hingga Covid-19.

Berikut beda gejala awal HIV dan flu, mengutip laman Sexually Transmitted Disease Center.

1. Masa inkubasi

Masa inkubasi virus penyebab flu umumnya berlangsung selama dua hari. Sementara virus HIV memiliki masa inkubasi dua hingga empat pekan.

2. Kelelahan

Baik flu maupun HIV dapat muncul dengan gejala kelelahan. Kelelahan ini sama seperti rasa lelah biasa, bukan sesuatu yang aneh.

3. Sakit tenggorokan

Baik flu dan HIV memicu gejala sakit tenggorokan. Namun, gejala ini memiliki perbedaan diantara dua penyakit.

Pada flu, sakit tenggorokan akan disertai kemerahan dan pembengkakan di area tenggorokan.

Sementara pada HIV, rasa nyeri akan dibarengi dengan pembesaran tonsil tanpa kemerahan serta munculnya bercak putih.

4. Pembengkakan kelenjar getah bening

Kasus flu umumnya tak memicu pembengkakan kelenjar getah bening.

Sementara pada HIV, pembengkakan kelenjar getah bening menjadi gejala yang umum. Pembengkakan biasanya terjadi pada area leher dan ketiak.

Kelenjar ini akan membesar selama minggu kedua dan membaik seiring waktu berjalan.

5. Penurunan berat badan

Kedua kondisi tersebut dapat menekan nafsu makan. Namun, penurunan nafsu makan tampaknya lebih signifikan terjadi pada kasus HIV.

Pada kasus flu, penurunan nafsu makan tak akan memengaruhi berat badan pasien.

Sementara pada kasus HIV, penurunan nafsu makan bisa berlangsung signifikan dan dapat mengakibatkan penurunan berat badan secara tiba-tiba.

6. Sakit kepala




Picture of adult woman waking up in the morning feeling sickIlustrasi. Sakit kepala jadi gejala awal HIV dan flu yang mirip. (iStockphoto/PeopleImages)

Pada kasus flu, sakit kepala umumnya hanya berlangsung selama beberapa hari pertama.

Sementara pada kasus HIV, sakit kepala akan terasa lebih intens yang terletak di area mata dan memburuk saat mata bergerak.

7. Lesi mulut

Lesi pada mulut tak umum terjadi pada pasien flu. Sementara pada HIV, lesi mulut umum terjadi.

8. Ruam

Ruam hanya terjadi pada pasien yang mengalami infeksi HIV, tapi tidak dengan pasien flu.

Pada kasus HIV, ruam bisa muncul di hampir seluruh tubuh termasuk telapak tangan, kaki, dan kulit kepala. Daerah yang paling terkena adalah leher dan dada, serta biasanya dibarengi rasa gatal.

Ruam pada kasus HIV biasanya muncul 48 jam setelah demam dan bisa hilang dengan sendirinya setidaknya dalam waktu seminggu.

Demikian beda gejala awal HIV dan flu yang perlu diketahui. Masyarakat yang masuk dalam kelompok berisiko perlu lebih waspada agar tidak terkecoh.

(asr)

[Gambas:Video CNN]


Baca Juga :  Resep Nasi Goreng Kambing, Cocok untuk Kumpul Keluarga