Setelah Quiet Quitting, Kini Muncul Quiet Firing, Apa Lagi Itu?

Jakarta, c4d-forum.de

Setelah fenomena quiet quitting muncul, kini muncul lagi fenomena baru yakni quiet firing sebagai ‘tandingannya.’

Jika quiet quitting adalah cara karyawan untuk bekerja sesuai jatah dan jam kerja yang tidak berlebihan, maka quiet firing adalah fenomena yang berlaku untuk para pemberi kerja.

Quiet firing bisa dibilang bom waktu. Ini adalah strategi yang memojokkan karyawan atau pihak yang lemah di sebuah perusahaan.

Quiet firing tidak berbeda dengan quiet quitting, bukan sesuatu yang baru hanya istilahnya saja yang baru. Quiet firing adalah sebuah strategi yang bisa dilakukan oleh para ‘bos’ untuk membuat pemecatan diam-diam bagi karyawannya.

Melansir Washington Post, quiet firing kebanyakan dilakukan agar pemberi kerja tidak perlu memecat hingga harus memberikan pesangon dan semua hak sesuai aturan yang berlaku.

Quiet firing ini bisa dalam bentuk gaji yang tidak pernah naik, tidak diberi tambahan karyawan saat pekerjaan menumpuk, hingga membuat berbagai skenario yang bisa membuat karyawan frustasi hingga tidak betah. Istilahnya, karyawan dibuat tak nyaman bekerja di perusahaan tersebut sehingga akhirnya mengundurkan diri. Familiar dengan hal ini?

Taktik pasif-agresif yang kemudian disebut dengan istilah quit firing ini bukan untuk memecat karyawan secara langsung melainkan membuat karyawan itu berhenti sendiri. Ini bisa dibilang cara paling solid yang bisa dilakukan ‘bos’ untuk memecat karyawan tanpa merasa tidak nyaman dan tak perlu bayar pesangon.

“Quiet firing tidak dibicarakan secara terbuka karena berbagai alasan, karena itu adalah cara lain dari perilaku pasif-agresif yang kami lihat dari para pemberi kerja,” kata Izabela Lundberg, pakar budaya organisasi dan pengembangan kepemimpinan sekaligus pendiri Legacy Leaders Institute dilansir berbagai sumber.

Baca Juga :  7 Jurusan Kuliah yang Paling Dibutuhkan di Dunia Kerja

Apa saja contoh quiet firing?

Cara yang dilakukan setiap atasan tentu berbeda. Ini bergantung pada individu yang akan dipecat.

Misalnya, memberi tugas yang paling tidak disukai sepanjang waktu, tidak menambahkan karyawan tersebut ke utas email penting, mengecualikan mereka dari rapat tertentu hingga mengabaikan semua pendapat mereka.

Fenomena ini sebenarnya tidak berfokus pada atasan ke bawahan. Ini juga bisa terjadi sesama karyawan. Misalnya, perilaku diskriminatif karyawan pria terhadap karyawan wanita. Mereka dengan sengaja mengecualikan karyawan wanita dalam acara-acara penting dengan tujuan karyawan tersebut terlihat buruk di mata atasan.

Walau begitu, fenomena ini tidak bisa disamakan dengan intimidasi di tempat. Karena bisa jadi ketika seseorang diberikan treatment quiet firing mungkin saja memang kinerjanya selama ini tidak benar-benar baik.

Ada solusi terbaik?

Daripada memecat karyawan secara diam-diam, bos sebaiknya mengatasi masalah secara langsung dan terbuka dalam dialog konstruktif dengan karyawan mereka. Selama percakapan ini, masalah kinerja harus diangkat. Bahkan rencana yang diuraikan tentang cara maju atau keluar dari perusahaan juga harus dibicarakan.

Intinya adalah, ada cara yang lebih konstruktif bagi seorang atasan untuk menghadapi kinerja buruk atau sikap buruk, daripada melakukan quiet firing terhadap karyawan mereka.




Foto: Dok. Allo Bank

(tst/chs)

[Gambas:Video CNN]