Studi Buka 1 Kebiasaan yang Harus Dienyahkan Saat Depresi, Pakai HP

Jakarta, c4d-forum.de

Studi mengungkap ada satu kebiasaan yang perlu dieliminasi jika Anda merasa terus bersedih hingga depresi. Sebaiknya kurangi kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam dengan ponsel.

Peneliti kesehatan masyarakat di China menemukan kecanduan ponsel jadi kontributor signifikan terhadap depresi yang dialami partisipan riset.

Studi yang diterbitkan di peer-review BMC Psychiatry ini melibatkan 450 mahasiswa kedokteran dengan komposisi 39 persen laki-laki dan 61 persen perempuan. Mereka diminta mengisi kuesioner berisi pertanyaan seputar penggunaan ponsel dan internet, kebiasaan tidur, serta relasi dengan orang tua serta teman sebaya.

Peneliti menemukan partisipan yang bergantung pada ponsel kurang memiliki komunikasi yang memadai dan efektif dengan teman, pengajar. Bahkan kata mereka, bergantung pada ponsel rentan menimbulkan konflik dengan keluarga.

Dengan demikian, mereka lebih rentan mengalami depresi dan gangguan psikologis.

“Kecanduan ponsel dalam jangka panjang dapat mengakibatkan mahasiswa kedokteran menjadi terkucil dari kehidupan nyata, memiliki pikiran negatif, bahwa berujung pada depresi dan gangguan tidur,” tulis peneliti.

Kenapa ponsel bisa berkontribusi pada depresi?

Penelitian-penelitian yang sudah ada sebelumnya menyebut penggunaan ponsel terutama di malam hari bisa mengganggu kualitas tidur. Ponsel memberikan stimulasi intens sehingga orang terus terjaga.

Selain itu cahaya biru (blue light) layar ponsel juga bisa mengganggu ritme sirkadian atau jam biologis tubuh dan mempengaruhi tidur. Kemudian kurang tidur akan membawa dampak psikologis yang buruk seperti depresi, kecemasan dan masalah lain.

Seperti dilansir dari The Healthy, riset di University of California, Berkeley yang diterbitkan di PLOS Biology menyorot hubungan kurang tidur dan kontribusinya pada masalah psikologis, sosial dan emosional.

Baca Juga :  Kulineran di Yaowarat Road, Salah Satu Jalan Terkeren di Dunia

Satu malam kurang tidur┬ábisa memicu penarikan bantuan dari satu orang ke orang lain. Jam tidur yang hilang pun mengganggu area otak yang memfasilitasi “pro sosialitas” atau secara otentik berhubungan dengan orang lain dengan cara yang baik dan bermanfaat.

Dengan kata lain, ponsel mampu mengacaukan kemampuan otak untuk membantu orang terhubung dengan orang lain serta merugikan kesehatan mental.

(els/agt)

[Gambas:Video CNN]