Teknologi Terbaru Operasi Laparoskopi: Apa Manfaatnya untuk Pasien?

Jakarta, c4d-forum.de

Ilmu kedokteran saat ini berkembang sangat cepat dan semakin modern. Teknologi yang advanced memberikan harapan bagi pasien untuk mendapatkan terapi lebih baik.

Salah satunya adalah dalam operasi atau pembedahan. Di samping pembedahan terbuka, saat ini sudah umum dilakukan juga operasi laparoskopi.

Apa itu laparoskopi?

Bedah laparoskopi merupakan teknik bedah invasif minimal yang digunakan di daerah perut dan panggul. Tindakan ini menggunakan bantuan laparoskop (batang teleskopik tipis dengan kamera di ujungnya). Kamera ini untuk melihat ke dalam tubuh tanpa membukanya sepenuhnya.

Dengan demikian, tindakan laparoskopi tidak seperti pembedahan terbuka dengan sayatan 15-30 cm. Operasi ini menggunakan satu hingga empat sayatan kecil berukuran 0.5 cm-2 cm. Satu untuk kamera, dan yang lain untuk instrumen bedah atau satu port untuk kamera dan instrumen bedah (single port).

Tujuan laparoskopi untuk mengurangi luka dan perdarahan pada pasien saat operasi serta mempercepat masa penyembuhan pasca operasi (prosedur minimal invasif) atau akses minimal dengan hasil sesuai prosedur operasi yang diharapkan.

Apakah semua laparoskopi sama?

Prosedur laparoskopi ini sebetulnya sudah berkembang di Indonesia sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Karena prosedur ini juga mengandalkan kecanggihan alat di samping keterampilan dokter operator, maka teknologi yang mutakhir sangat penting.

Contohnya dari laparoskopi 2-dimensi berkembang menjadi 3-dimensi, dan dari ketajaman SD, HD, sampai ketajaman 4K/ultra HD.

Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif Mayapada Hospital Jakarta Selatan dokter Errawan Wiradisuria mengatakan, laparoskopi yang baik tentu memudahkan dokter operator untuk melihat ke dalam rongga perut.

“Kalau dengan laparoskopi 2D, apalagi yang gambarnya kurang tajam, dokter memiliki keterbatasan untuk melihat organ mendekati keadaan yang aktual. Sama seperti TV, semakin jernih dan tajam gambarnya pasti lebih enak dilihat,” kata Errawan dalam keterangannya, Senin (8/8).

Baca Juga :  2,7 Juta Anak Indonesia Jadi Sasaran Progam Vaksinasi Kanker Serviks

Sedangkan di Mayapada Hospital Jakarta Selatan tempatnya bekerja, menggunakan laparoskopi tiga dimensi dan ketajaman 4K ultra HD. Dengan alat yang mumpuni ini, kata dia, dokter bisa melihat jaringan lebih jelas. Kemudian, tervisualisasi dengan baik pembuluh darah dan dan saluran-saluran kecil lainnya.

“Jadi gambarnya sangat detail dan clear. Sebagai contoh pada kasus bedah digestif, alat ini bisa membantu mendeteksi batas tumor, pembuluh darah usus, dan saluran empedu bila ditambahkan pewarnaan (indocyanine green),” katanya.

Kemudian, yang tak kalah penting, kata dia, studi menunjukkan ada pengurangan waktu operasi dan kehilangan darah saat operasi yang signifikan pada pasien yang dioperasi dengan teknologi 4K ultra HD dibandingkan dengan pembedahan terbuka.

Kasus apa saja yang bisa ditangani dengan Laparoskopi?

Penyakit yang bisa ditangani menggunakan laparoskopi contohnya adalah usus buntu, batu empedu, hernia, kista, sampai kasus-kasus kanker seperti kanker serviks, kanker usus besar, kanker/tumor hati, kanker prostat, dan perlekatan usus akibat berbagai penyebab.

Dokter Tricia Dewi Anggraeni, Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Onkologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan termasuk salah satu dokter yang berpengalaman melakukan laparoskopi untuk kasus-kasus penyakit organ reproduksi wanita seperti penegakan diagnosis dan tata laksana tumor kandungan jinak seperti kista ovarium, endometriosis, mioma uteri, adenomiosis, sampai penanganan tumor kandungan ganas.

Menurut dokter Tricia pada kanker endometrium dan serviks yang masih dini, pengangkatan rahim bisa dilakukan secara laparoskopi. Sehingga bekas sayatan kecil, namun radikalitas operasi tetap tercapai.

“Prosedur ini diharapkan dapat mempercepat waktu pemulihan serta waktu rawat inap sehingga pasien dapat segera kembali beraktivitas pasca operasi,” kata dia.

Dia menjelaskan, saat ini operasi laparoskopi sudah berkembang dari teknik dua dimensi menjadi tiga dimensi. Kelebihan teknik tersebut yaitu visualisasi lebih baik sehingga penggunaan alat lebih efisien dan waktu pengerjaan lebih cepat.

Baca Juga :  7 Manfaat Daun Kale untuk Kesehatan

“Namun tentu saja, keterampilan seorang dokter yang kompeten menentukan keberhasilan operasi,” kata dia.

Sementara Spesialis Urologi Konsultan Urologi Onkologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan dokter Syamsu Hudaya mengatakan, pada bidang urologi atau yang berkaitan dengan saluran kemih, laparoskopi juga bisa dilakukan untuk pengambilan batu di saluran kemih, perbaikan saluran kemih, pengangkatan kelenjar prostat, dan lain-lain sesuai indikasi klinis.

“Karena kanker prostat cukup tinggi kejadiannya apalagi pada pria di Indonesia, saya berpengalaman melakukan pengangkatan prostat dengan laparoskopi 3D 4K (ultra HD),” kata Syamsu.

Menurut dia, studi untuk kasus-kasus bedah urologi memang sudah membuktikan bahwa semakin advanced alat laparoskopinya, contohnya 2D versus 3D, maka outcome klinis untuk pasiennya juga lebih baik. Pada kasus pengangkatan kelenjar prostat menggunakan laparoskopi yang 3D, waktu operasinya lebih singkat dan kehilangan darahnya juga lebih sedikit.

“Pasiennya juga lebih cepat pulih kemampuan BAK-nya,” katanya.

Mayapada Hospital telah menggunakan Laparoskopi dengan teknologi terbaru yaitu 3-dimensi dengan ketajaman 4K (ultra HD). Ditunjang dengan keahlian dokter spesialis yang berpengalaman dan alat yang canggih, pasien diharapkan mendapatkan manfaat dan penanganan yang terbaik di Mayapada Hospital.

(inh)