Tren Kerja yang Lagi Ramai Dibicarakan, Apa Itu Quiet Quitting?

Jakarta, c4d-forum.de

Belakangan istilah quiet quitting banyak dibicarakan. Istilah ini digunakan para pekerja yang memilih memperbaiki cara kerja mereka agar tidak mengalami overwork hingga berujung burnout.

Istilah quiet quitting ini pun menjadi salah satu tren di TikTok. Banyak orang mencari tahu bahkan mengikuti ‘gelombang’ quiet quitting yang dianggap baru.

Apa sebenarnya quiet quitting?

Quiet quitting sebenarnya bukan berarti Anda benar-benar mengundurkan diri dari pekerjaan. Mengutip Euronews, ‘keluar’ di sini hanya merujuk pada kondisi mental. Di sini, seorang pekerja hanya melakukan pekerjaan apa adanya untuk bertahan atau kerja sesuai ‘argo’.

Quiet quitting juga menjadi semacam seruan untuk pekerjaan yang lebih baik. Maksudnya, untuk mendapatkan keseimbangan hidup yang lebih baik atau yang dikenal dengan jargon ‘work life balance‘.

Istilah ini dianggap memiliki konotasi yang cukup negatif. Namun, para ahli sumber daya dan pekerja yang bekerja sesuai argo mengatakan bahwa sebenarnya tren ini memberikan dampak positif dan menyehatkan.

Pasalnya, para pekerja bisa menetapkan batasan yang lebih jelas dengan pekerjaan mereka.

“Saya lebih suka orang mengatakan bahwa ini adalah ‘kehidupan yang rasional’ daripada ‘quiet quitting‘,'” kata Paula Allen, Pemimpin Riset Global di perusahaan layanan kesejahteraan LifeWorks.

Mengutip CNBC, secara istilah, quiet quitting memang merupakan hal yang baru. Namun untuk urusan konsep, tentu saja tidak.

Konsultan sumber daya manusia Michael Timmes mengatakan, konsep ini sudah dilakukan sejak lama. Di setiap masa atau perusahaan, akan selalu ada karyawan yang bekerja sesuai argo. Hal ini dianggap sebagai reaksi dari rasa lelah yang dialami pekerja.

Baca Juga :  Apa Salahnya Kerja Sesuai Argo dan Pulang Tenggo?

“Hari ini, [quiet quitting] didorong oleh Gen Z yang menyebar melalui media sosial,” kata dia.

Jadi permintaan langsung




Ilustrasi. Istilah quiet quitting ramai diantara para Gen Z melalui media sosial. (iStockphoto/fizkes)

Quiet quitting versi dulu mungkin menjadi tantangan yang harus dihadapi perusahaan saat para karyawan mulai lelah dan berujung kerja seminimal mungkin tanpa meminta langsung. Tapi saat ini, quiet quitting justru menjadi permintaan langsung. Para pekerja meminta keseimbangan kerja agar tidak mengalami kelelahan atau overwork dari pekerjaan mereka.

Bagi Jaya Dass, yang menjabat sebagai direktur pelaksana Randstad untuk Singapura dan Malaysia, quiet quitting adalah ‘dampak sisa’ dari Covid-19. Konsep ini juga menjadi gambaran banyak karyawan yang merasa ada ketidakseimbangan di antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Dalam kondisi itu, mengundurkan diri menjadi hal yang umum. Biasanya, pengunduran diri dilakukan para pekerja yang sudah punya alternatif pekerjaan lain.

Sementara quiet quitting dilakukan individu yang merasa tidak memiliki pekerjaan alternatif dan harus tetap bekerja. Quiet quitting telah menjadi pilihan berikutnya yang tersedia.

“Jika tidak ada yang meminta Anda keluar [dari pekerjaan], mengapa tidak melakukan lebih sedikit [pekerjaan] dan lolos begitu saja?, ” kata Dass.

(tst/asr)

[Gambas:Video CNN]