Viral Jasa Screenshot iPhone, Buat Apa Sih?

Jakarta, c4d-forum.de

Belakangan, muncul jasa baru yang cukup menggelitik. Namanya jasa screenshot atau tangkapan layar ponsel khusus iPhone.

Harga yang ditawarkan beragam. Mulai dari Rp500 sampai Rp1.000. Khusus untuk screen record atau mengambil tayangan video dari layar dibanderol dengan harga Rp1.500.

Sepintas, Anda mungkin bertanya-tanya, untuk apa ada jasa screenshot? Apakah jasa ini punya konsumennya sendiri?

Ada, tentu saja.

Salah satu konsumennya adalah Wulan (23). Ibu muda tiga anak ini mengaku pernah menggunakan jasa tangkapan layar di salah satu penjaja di media sosial. Waktu itu, dia meminta lima tangkapan layar, masing-masing dibanderol Rp1.000.

Hal ini dilakukan Wulan untuk iseng dan supaya terlihat keren. Dia ingin seperti orang-orang, menggunakan ponsel iPhone yang identik dengan kaum elite nan bergaya.

“HP-ku android, beda kalau tangkapan layar iPhone sama android kelihatan bedanya. Terus tangkapan layar itu aku upload di Facebook, biar kelihatan aku pakai iPhone,” kata Wulan kepada CNNIndonesia.com, Jumat (26/8).

Validasi sosial dengan casing palsu kehidupan




Ilustrasi. Jasa screenshot iPhone jadi gambaran kebutuhan orang akan validasi sosial di dunia maya. (dok. screenshot Apple)

Budaya pamer di media sosial memang makin menjamur. Tapi, terkadang hal ini tidak sesuai dengan kenyataan hidup yang dijalani seseorang.

Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Rosmini menyebut, istilah pamer ini merupakan bentuk validasi sosial yang ingin diraih seseorang. Hanya saja, validasi sosial terkadang dilakukan dengan cara yang salah.

“Jadi untuk dianggap, diakui bahwa dia ada eksistensinya oleh orang lain, dia menggunakan cara-cara yang seperti casing aja, padahal ini tidak sesuai dengan isi [kemampuan] di dalamnya,” kata Rosmini saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (26/8).

Setiap orang pasti membutuhkan validasi. Tak ada yang salah dengan kebutuhan akan validasi.

Eksistensi untuk menjadi orang terpandang di masyarakat merupakan bentuk validasi untuk terlihat mampu di mata sosial. Tak jarang orang menggunakan cara-cara yang tidak sesuai dengan kemampuan untuk mendapatkannya.

“Salah satunya ya dengan membeli jasa tangkapan layar ini. Kita tahu iPhone identik dengan kelas sosial atas. Jadi, ya, sekarang kalau orang yang pakai iPhone dianggap mampu secara finansial,” katanya.

Ada akibat, ada sebab. Inilah yang terjadi dari bentuk validasi sosial yang diyakini sebagian orang.

Media sosial, kata Rosmini, menjadi salah satu pemicu munculnya keyakinan bahwa validasi sosial bisa didapatkan dengan tingkat ekonomi tertentu. Salah satunya dengan menggunakan handphone iPhone.

“Itu artificial saja, tidak nyata. Hanya pura-pura. Dan ini dianggap sebagai jalan pintas untuk mendapat pengakuan atau validasi sosial,” kata dia.

Rosmini mengatakan tak ada yang salah dengan kebutuhan tersebut. Hanya saja, dengan validasi itu, seseorang terjebak dalam hidupnya yang palsu.

“Jadinya dia hidup palsu, hanya hal-hal yang bukan dirinya yang ditampilkan ke publik,” ujar Rosmini.

(tst/asr)

[Gambas:Video CNN]


Baca Juga :  Tema dan 30 Ide Ucapan Hari Kebangkitan Nasional 2022 yang Penuh Makna