Waspada 5 Macam Ruam dan Lesi Kulit Gejala HIV

Jakarta, c4d-forum.de

Banyak orang yang terinfeksi HIV mengalami masalah kulit karena dampak virus pada sistem kekebalan tubuh. Dalam banyak kasus, gejala ini dapat mencakup lesi pada kulit.

Lantas, apa saja ciri-ciri ruam kulit bagi penderita HIV?

Mengutip Medical News Today, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Ketika sistem kekebalan kehilangan kekuatan, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi akan menurun.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko seseorang terhadap berbagai infeksi dan penyakit, termasuk masalah pada kulit. Jenis kanker tertentu juga lebih mungkin terjadi pada orang dengan HIV.

Kondisi kulit dapat menunjukkan infeksi oportunistik, penyakit lain yang terkait dengan HIV, atau efek samping obat HIV.

Berikut beberapa ciri ruam pada infeksi HIV:

– menimbulkan rasa gatal,
– berwarna merah atau keunguan,
– menimbulkan rasa nyeri.

Mengutip WebMD, ruam merupakan gejala umum dari tahap awal (akut) infeksi HIV. Bagi beberapa orang, gejala ini bahkan kerap muncul di awal.

Penyebab Ruam Kulit HIV




Ilustrasi. Infeksi HIV bisa memicu ruam dan lesi pada kulit. (Istockphoto/ Jarun011)

HIV tidak secara langsung memengaruhi kulit. Namun, HIV dapat merusak atau menghancurkan sel CD4 sistem kekebalan, yang mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Hal ini meningkatkan risiko masalah kesehatan tertentu, termasuk kondisi kulit.

Infeksi tertentu pada orang yang terkena HIV sering disebut infeksi oportunistik. Infeksi ini biasanya mengakibatkan gejala ringan. Namun, bisa jadi parah pada orang dengan sistem kekebalan rendah.

Tingkat keparahan lesi kulit dapat bervariasi. Dalam beberapa kasus, hanya sebagian kecil dari kulit seseorang yang terpengaruh. Dalam kasus lain, lusinan atau lebih lesi kulit dapat berkembang.

Jenis Lesi Kulit yang Umum Muncul saat Terinfeksi HIV

Berbagai kondisi kulit yang menyebabkan lesi umum terjadi pada orang dengan HIV antara lain.

1. Dermatitis seboroik

Dermatitis seboroik adalah kondisi kulit yang menyebabkan bercak kulit bersisik, bengkak, dan gatal. Area umum yang terkena, termasuk garis rambut seseorang di kepala dan lipatan nasolabial, atau lekukan pada wajah yang membentang dari tepi hidung ke sudut luar mulut.

Penyebab dermatitis seboroik lainnya termasuk pertumbuhan berlebih dari jamur yang biasanya tidak berbahaya dan tidak menular.

Dilaporkan bahwa hingga 80 persen dari mereka yang terkena HIV akan lanjut mengalami dermatitis seboroik tanpa pengobatan antiretroviral yang efektif.

2. Folikulitis

Folikulitis adalah peradangan pada folikel rambut. Jenis folikulitis yang disebut folikulitis eosinofilik sering dikaitkan dengan HIV, terutama pada orang dengan jumlah CD4 rendah.

Folikulitis biasanya muncul sebagai area bengkak yang terasa gatal dan ditemukan di bahu, lengan atas, leher, dan dahi.

3. Herpes

Kedua virus herpes simpleks dapat menyebabkan lesi yang menyakitkan. Lesi bisa muncul di sekitar mulut seseorang. Herpes juga dapat menyebabkan borok yang menyakitkan di sekitar alat kelamin atau anus.

Orang yang memiliki HIV akan mengalami lesi herpes simpleks yang terus datang dan pergi.

4. Sarkoma kaposi

Sarkoma kaposi adalah jenis kanker yang menyebabkan lesi kulit yang tampak merah, coklat, atau ungu. Lesi biasanya muncul sebagai bercak atau nodul.

Diagnosis sarkoma kaposi biasanya menandakan seseorang dengan HIV telah memasuki tahap lanjut yang dikenal dengan AIDS.

5. Moluskum kontagiosum

Moluskum kontagiosum ditandai dengan benjolan halus, berwarna seperti daging atau merah muda pada kulit.

Siapa pun bisa mengalami moluskum kontagiosum, namun dapat menjadi parah pada orang yang terkena HIV. Dalam kelompok ini, benjolan mungkin lebih besar dan tumbuh di area kulit yang luas.

(del/asr)

[Gambas:Video CNN]


Baca Juga :  Viral Gadis 18 Tahun Sakit Telinga Ternyata Stroke, Ini Kata Dokter